Kreasi Bunga Dari Kulit Gonggong Di Batam

0 406

Kreasi Bunga Dari Kulit Gonggong Di Batam

Berawal dari suka merangkai bunga dengan menggunakan bahan yang tidak layak atau limbah. Membuat Suyanti mendirikan rumah gonggong sebagai inovasi dari seni menciptakan bunga dari limbah.

”Waktu itu, orang banyak membicarakan gonggong dan memang makanan gonggong sangat diminati masyarakat. tapi itu isinya. Sedangkan kulit gonggong dibuang begitu saja,” cerita dia ketika mulai membuat kerajinan dengan bahan kulit gonggong.

Pada tahun 2010, istri Kasmun itu fokus merangkai bunga dengan bahan dasar dari kulit gonggong dan menjadikan rumahnya sebagai rumah gonggong. ”Saya senang dengan bunga dan apa saja saya bisa menjadikan bunga, termasuk kulit gonggong,”ujar Suyanti dengan semangat di rumahnya Pancur Blok J No. 2 RT 3, RW 2 Kel. Tanjungpiayu, Kec. Sei Beduk.

Suyanti hanya membutuhkan modal ratusan ribu untuk membuat karya seni dengan harga jutaan rupia. Satu bunga dari gonggong bisa laku Rp 500 ribu sampai Rp 3 jutaan dan pelanggangnya banyak dari kalangan pejabat dan orang kantor.

Dalam perkembangan usaha kerajinan lulusan SMA itu, berbagaimacam jenis kreatifitas yang dibuat dari limbah gonggong dan sampah lainnya.

Dalam rumahnya terlihat karya seni yang terbuat dari limbah kerang mulai dari bunga, tirai, pot, boneka berby, ular, ikan dan berbagai macam jenis binatan yang terbuat dari limbah sampai gantungan kunci yang lucu dan menarik dengan bahan dasar kulit gonggong. Harganya pun berfariasi dan terjangkau untuk umum.

Sejak memulaiusaha karajinan dengan membangun rumah gonggong, omsetnya merangkak naik sehingga tahun 2012 dan 2013bisa mendapat penghasilan per bulan Rp 3 sampai Rp 5 juta. Namun saat ini, penjualannya sangat menurun. ”Sekarang kurang pembelimya, bahkan tak ada yang beli. Karena orang hanya  membeli kebutuhan sehari-hari seperti sembako dari pada membeli beli barang-barang seni,” kecewa dia.

Menurutnya produk souvenir yang ia buat, termasuk harga yang terjangkau. Namun ada juga yang menyebut mahal. ”Yang membuat mahal karya seni dari limbah, karena prosesnya yang panjang,” papar dia.

Sebab untuk membuat bunga dengan menggunakan gonggong prosesnya cukup lama. Pasalnya, untuk mendapatkan kulit gonggong dan akar pohon yang mati(untuk pohon bunga) harus dicari di berbagai tempat termasuk ke pulau. Sehingga ongkos transportasi dan  kebersihannya pun cukup mahal serta menelang waktu yang lama. ”Makanya limbah itu bisa mahal,” terang dia.

Selain itu, akar atau kayu yang dipilih untuk membuat bunga yang tinggi atau besar harus memilih akar yang memiliki nilai seni. Bukan sembarang ambil. Dari kreatifitasnya memanfaatkan limbah, Suyanti banyak mendapatkan penghargaan dari berbagai intansi pemerintah dan menjadi langganan juara satu tingkat dalam lomba pemanfaatan limbah tingkat kota dan provinsi bahkan nasional. Dengan demikian, ia sangat dikenal oleh ibu-ibu pejabat di wilaya kepri.

”Ketika ada lomba atau pelatihan, saya sering dipanggil mewakili Batam atau kepri,” ungkap ibu yang perna menjurai lomba krasi bunga dari limbah pada tahun 2004. Dalam kesehariannya dia rutin setiap minggu melati ibu-ibu disekitar kediamannya memanfaatkan sampah jadi barang yang berguna.

Sekarang Suyanti sangat berharap bantuan dari pemerintah dalam mepromosikan dan memasarkan hasil karyanya. Karena selama ini, karyanya hanya dijual di rumahnya sendiri dan di ruko di Batamcentre. ”Saya berharap pemerintah bisa memajukan usaha kerajinan dari limbah. Agar masyarakat bisa mendiri,” harapnya.

Kata dia pemerintah tidak perlu memberikan fasilitas, tapi pemerintah perlu memberikan ruang dan mendorong agar pemasaran produknya bisa di pasarkan di mall, hotel dan lokasi strategis yang ada di Batam, lebih jauh pemerintah mendorong karya seninya bisa menjadi produk eksport.

Source http://www.isukepri.com http://www.isukepri.com/2015/05/suyanti-menjadi-guru-kerajinan-tangan/
Comments
Loading...