Kreasi Daun Lontar Menjadi Cinderamata Di Bali

0 272

Kreasi Daun Lontar Menjadi Cinderamata Di Bali

Sebelum ditemukan kertas, sejarah mengenal beberapa media yang digunakan sebagai alat dokumentasi. Beberapa di antaranya adalah batu sabak, bambu, papan kayu, dan daun lontar. Dokumentasi dengan daun lontar populer digunakan oleh masyarakat daerah Jawa, Bali, Lombok zaman lampau untuk menulis hikayat, aturan adat, serta pencatatan sejarah.

Kini dengan ditemukannya kertas, daun lontar mulai banyak dilupakan. Meski begitu masyarakat Desa Tenganan di Bali masih terus melestarikan daun lontar, walau fungsinya bukan lagi seperti dahulu kala.

“Di luar mungkin penggunaan lontar ini sudah hilang, tetapi di sini justru berkembang. Memang orientasinya komersil tapi jadi ciri khas,” kata Nyoman Suwita, pemandu sekaligus masyarakat Desa Tenganan, Karangasem, Bali.

“Dulu ini ditulis untuk aturan adat sekarang lontar ini dihias untuk jadi oleh-oleh wisatawan,” kata seorang pembuat lontar sembari menggambar di daun lontar.

Ia mengatakan untuk menjadikan daun lontar dapat menjadi sebuah media tulis atau gambar proses yang diperlukan cukup lama, sekitar enam bulan. Untuk menggambar dan menulis di daun lontar, awalnya perajin akan mengukir tulisan atau gambar dengan alat yang disebut pengutik. Kemudian, agar ukiran tersebut lebih nampak, ditorehkan kemiri bakar sebagai ganti tinta.

“Sebenarnya proses menggambar di daun lontar sama seperti proses tato. Jadi kalau salah menggores sedikit saja, daun lontar tak dapat digunakan lagi,” kata Suwita.

Lukisan di atas daun lontar yang dibuat warga Desa Tenganan, Kabupaten Karangasem, Bali umumnya gambar khas Bali dan dewa-dewi dalam agama Hindu yang menghiasai daun lontar dari Tenganan. Agar media gambar semakin lebar, daun lontar ini dihubungkan dengan benang dan dilapisi oleh bilah bambu yang dipotong seukuran daun lontar, seperti sampul luar daun lontar. Alternatif lain, daun lontar juga bisa dibingkai ke pigura kaca. Daun lontar dipercaya lebih awet ketimbang media lainnya karena tahan terhadap gigitan rayap. Bukti nyatanya, banyak manuskrip dari zaman Bali Aga (Bali Mula) yang tetap bertahan hingga saat ini.

Untuk harga lukisan lontar di Desa Tenganan Pengringsingan dijual dari harga Rp 100.000, tentu berbeda jika media lontar yang digunakan semakin lebar dan lukisan semakin rumit.

Uniknya, penjual lukisan daun lontar di Desa Tenganan Pengringsingan adalah pengrajinnya langsung. Mereka juga fasih berbahasa Inggris, sehingga dapat lebih mudah memperkenalkan produknya ke wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Desa Tenganan.

Source http://travel.kompas.com http://travel.kompas.com/read/2016/11/08/132000627/dari.media.manuskrip.daun.lontar.berubah.jadi.cendera.mata
Comments
Loading...