Kreasi Kerajinan Bonggol Jagung Di Bali

0 398

Kreasi Kerajinan Bonggol Jagung Di Bali

Pemilik Krisna Holding Gusti Ngurah Anom menyatakan, sudah banyak pengusaha UMKM yang bisa berkreasi. Kreativitas tersebut tak boleh berhenti. Sebab, itu merupakan modal bagi UMKM agar mampu bersaing di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

”Bambu dan bonggol jagung saja bisa dipakai untuk banyak kerajinan,” kata pria yang akrab disapa Ajik Krisna tersebut. Sumber daya alam (SDA) memang menuntut manusia mampu mengolahnya. Jika tidak diolah dengan baik, kekayaan itu akan terbuang sia-sia. Produk UMKM Indonesia bisa kalah dengan produk negara lain.

Ajik merasa saat ini pemerintah telah sangat mendukung UMKM. Hal tersebut bisa dilihat dari kredit usaha rakyat (KUR) dengan bunga rendah. Bantuan finansial itulah yang sangat dibutuhkan UMKM. Sebab, sering kali UMKM tidak mampu memenuhi permintaan pasar karena akses finansial yang kurang.

UMKM sering kali hanya bisa memproduksi dalam skala kecil. Bahan baku yang mampu dibeli pun sedikit. Padahal, semakin sedikit pembelian bahan baku, harga akan semakin mahal. Jika UMKM bisa membeli bahan baku lebih banyak, harga jual produknya akan lebih murah. Di situlah terletak manfaat akses finansial bagi UMKM.

Pengusaha toko oleh-oleh Krisna itu pun mengimbau UMKM mau bersinergi dengan pemerintah. ”Pemerintah sudah sangat menggebu-gebu membantu ekonomi masyarakat miskin dan mendorong kemajuan UMKM. Tinggal bagaimana UMKM mau serius bekerja dan bagaimana pengusaha seperti saya ini membantu lewat pelatihan-pelatihan,” papar Ajik.

Misalnya baju batik dari Tiongkok yang banyak menyerbu pasar Indonesia. Produk batik buatan Tiongkok memang murah. Namun, kualitas batik buatan Indonesia sebetulnya lebih bagus. ”Banyak kok konsumen yang masih melihat kualitas. Bukan hanya dari sisi harga,” katanya.

Salah satu yang dikeluhkan Ajik adalah masih adanya UMKM yang nakal. Ketika bisnis UMKM itu mulai bagus, timbul keinginan untuk mendapatkan keuntungan dengan cara yang tidak pantas. Ajik mencontohkan, UMKM konfeksi yang memproduksi kaus bisa saja menggunakan kualitas sablon yang rendah. Padahal, dulunya pengusaha konfeksi tersebut terbiasa menggunakan bahan-bahan yang berkualitas.

Selain pemanfaatan alam untuk UMKM, Ajik berpesan agar alam bisa dimanfaatkan untuk bisnis pariwisata. Keindahan alam adalah modal bagi pariwisata Indonesia agar bisa bersaing di era MEA. Terlebih, era MEA diyakini mampu mendatangkan lebih banyak wisawatan asing.

Pria yang memenangi Jawa Pos Group Awards 2015 kategori Businessperson of the Year itu menambahkan, sudah bukan saatnya pariwisata Indonesia hanya mengandalkan modernitas. Menurut dia, makin lama orang akan kian bosan dengan pembangunan gedung-gedung mewah, mal, dan segala bentuk modernisasi ala kota metropolitan. Justru yang akan banyak dicari wisatawan adalah tempat yang mampu menyajikan keindahan alam dan keragaman budaya.

Memang, sebagai pengusaha toko oleh-oleh, Ajik sangat peduli terhadap perkembangan pariwisata Indonesia. Pengusaha yang bergerak di bidang pariwisata, menurut dia, harus mampu membaca tren. ”Tapi ingat, kalau kita hanya menjual alam dan tidak ada fasilitas sama sekali, itu juga tidak bagus,” tuturnya.

Menjaga keindahan alam dan tidak merusaknya adalah suatu hal yang harus didukung. Baik oleh pengusaha, masyarakat, maupun pemerintah setempat. Namun, di luar itu, pemenuhan kebutuhan wisatawan seperti hotel dan tempat wisata kuliner juga harus diperhatikan.

Tinggal bagaimana cara mengatur supaya keindahan alam yang ada tidak rusak karena pembangunan fasilitas-fasilitas penunjang tersebut. Sebab, pembangunan fasilitas itu jugalah yang nanti mampu menyerap tenaga kerja. Terutama dari masyarakat sekitarnya.

Ajik menyadari bahwa Bali adalah tempat wisata yang dominan dikenal dan dikunjungi wisatawan asing. Padahal, potensi wisata tidak hanya ada di Bali. ”Masing-masing provinsi punya ikon sendiri. Untuk memperkenalkan itu kepada wisawatan, tergantung bagaimana kita menjaga alam dan membangun fasilitas yang tidak merusak alam tersebut,” ungkap pria yang mengaku punya hobi bekerja itu.

Dia meyakini, jika keindahan alam dan keragaman budaya masing-masing provinsi dapat dijaga, sektor pariwisata di provinsi-provinsi lain di Indonesia akan lebih maju.

Ajik mulai membuka toko oleh-oleh Krisna pada 2007. Bisnis tersebut dibangunnya setelah sukses mengembangkan usaha konfeksi bernama Cok Konveksi. Dari situ dia melihat peluang bisnis membuat kaus sebagai buah tangan para wisatawan yang melancong ke Bali.

Dia pun terus mengembangkan bisnisnya ke pusat oleh-oleh, restoran, spa, watersport, butik, dan galeri seni. Ajik berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Dia dulu tak mampu menyelesaikan pendidikan hingga SMA karena masalah biaya. Ajik juga sempat bekerja sebagai penjaga hotel, tukang cuci mobil, dan pekerja serabutan di garmen.

Kini Ajik telah memiliki 20 outlet yang bernaung di bawah bendera Krisna Holding. Sebanyak 1.800 karyawan telah dipekerjakan di usaha miliknya. Sebagai pengusaha yang peduli terhadap UMKM, Ajik mengaku hanya menjual barang-barang produksi UMKM Indonesia. Dia tidak berminat menjual barang impor. Sebab, dia ingin memberikan akses pasar bagi UMKM agar lebih maju.

Source http://kalteng.prokal.co http://kalteng.prokal.co/read/news/26386-karena-bonggol-jagung-pun-bisa-jadi-kerajinan.html
Comments
Loading...