Kreasi Kerajinan dari Kepompong Di Denpasar

0 372

Kreasi Kerajinan dari Kepompong Di Denpasar

Sempat terpuruk dan vakum hingga beberapa tahun, Putu Suandewi kini bertekad menghidupkan kembali usaha kerajinan berbahan baku kepompong ulat sebagai bahan baku membuat tas dan dompet, jepit rambut, hiasan sanggul, serta beragam aksesoris lainnya. Usaha kerajinan yang menggunakan kepompong ini, sudah dirintis Suandewi sejak Mei 2006 di kawasan Jalan Pulau Misol-Denpasar. Modal awal yang disiapkan sebesar Rp 500 ribu. Modal ini digunakan untuk membeli kepompong dan lem, mengingat kerajinan ini memang tidak menggunakan peralatan yang lain.

“Ada kisah unik, mengapa saya menggeluti usaha ini. Dulu, saya bertemu dengan Julian dari Prancis. Julian membawakan saya beberapa kepompong yang masih utuh, belum diapa-apakan. Julian lantas meminta agar saya mempelajari dulu cara pembuatan kerajinan, yang bahan bakunya menggunakan bahan kepompong. Nanti kalau sudah bisa, Julian akan memesan,” ujar wanita kelahiran Singaraja.

Suandewi yang dasarnya suka membuat kerajinan, menjadi tertarik mendengar tawaran itu dan langsung mempelajari dengan semangat. Membuat kerajinan, memang bukan hal aneh bagi Suandewi. Sejak sekolah di SMP dan SMA, Suandewi sudah biasa menciptakan produk kerajinan dan menjualnya. Semasa kuliah di Yogyakarta pun, dia rajin membuat kerajinan dan dititip jual kepada sejumlah toko.

Namun, Suandewi tidak berkecil hati. Dia justru menganggapnya kehadiran Julian merupakan petunjuk dari Tuhan agar dirinya menekuni kerajinan dari kepompong. Maka mulailah Suandewi membuat berbagai kreasi dari kepompong, yang dijual kepada beberapa kenalannya. Kreasi dari kepompong itu ternyata diminati, sehingga Suandewi membuat lebih banyak lagi kerajinan dan getol pula mempromosikannya.

Harga kerajinan ini mulai paling murah Rp 10 ribu untuk berbagai jenis cincin. Sedangkan produk termahal berupa clutch yang harganya bisa mencapai Rp 300 ribu. Dulu ketika sedang ‘booming’, maka omzet kerajinan kepompong ini bisa mencapai Rp 30 juta per bulan. Hiasan sanggul dari kepompong ini paling laris dipesan konsumen dari Jakarta.

Pesanan kerajinan kepompong ramai datang kepada Suandewi, sehingga dia sampai merekrut pegawai sampai 16 orang. Sayangnya, usaha yang digeluti Suandewi sempat merosot. Sempat wanita ini mengalami berbagai problema, sehingga tidak konsentrasi mengurus bisnisnya. Akhirnya bisnis sempat terabaikan dan kemudian vakum pada tahun 2010.

Mulai tahun lalu, Suandewi telah mengukuhkan niat untuk membangkitkan kembali usaha kepompong ini agar kembali berkibar seperti dulu. Wanita ini juga berencana memaksimalkan media sosial sebagai ajang mempromosikan produk-produknya.

Dibantu dengan tiga orang karyawan, Suandewi kini mulai menggencarkan pembuatan produk. Meski omzet yang diperoleh belum sebesar dulu, namun Suandewi tidak berkecil hati dan tetap ingin menggeluti kerajinan ini.

Wanita ini malah terpikir ingin membuat buku tentang cara membuat kerajinan dari bahan baku kepompong, agar masyarakat lebih mengenal dan bisa membuatnya sebagai objek bisnis. “Kalau bisnis kerajinan dari bahan pelepah pisang, enceng gondok, akar-akaran, sudah banyak yang buat. Tapi rasanya belum ada yang membuat buku yang mengupas kerajinan dari kepompong, nah saya jadi terpikir untuk membuatnya,” katanya.

Source https://bisnisukm.com https://bisnisukm.com/sempat-mati-suri-suandari-bangkitkan-lagi-usaha-kerajinan-kepompong.html
Comments
Loading...