Kreasi Kerajinan Limbah Karung Goni Di Jakarta

0 36

Kreasi Kerajinan Limbah Karung Goni Di Jakarta

Madya P. Andang berhasil meraup untung hingga puluhan juta rupiah per bulan dengan bisnis kerajinan tangan dari limbah kain goni. Padahal, modal yang dikeluarkan saat pertama kali merintis usaha kurang dari Rp1 juta.

“Kami mengambil konsep ramah lingkungan. Memang sesuai dengan program pemerintah untuk menggalakkan go green,” kata Madya kepada VIVAnews di pameran “Jakcraft 2013” di Kementerian Perindustrian, Jakarta.

Madya menuturkan, selama ini karung goni dianggap kurang bernilai di mata masyarakat. Kain ini biasa digunakan untuk karung buah, karung beras, bahkan menjadi alas kaki. Oleh sebab itu, dia berinisiatif membuat karya seni dari limbah ini.

“Saya ingin mengangkat kain goni menjadi suatu produk yang unik. Kain goni ini tidak banyak menjadi perhatian,” ungkapnya.

Pada 2011, Madya mulai merintis usaha ini. Dia mengaku tidak merogoh kocek dalam-dalam untuk memodali bisnis tersebut.

Alasannya, kain goni yang digunakan untuk kerajinannya sangat murah, berkisar Rp6.000 hingga Rp10.000 per lembar. Ditambah dengan alat-alat produksi seperti jarum jahit, benang, dan lem tembak. Ada juga bahan tambahan, yaitu kain perca seperti kain jins.

“Dengan investasi alat-alatnya, mungkin modalnya tidak sampai Rp1 juta. Karena, kami ini memang membuat produk ramah lingkungan,” kata Madya yang juga seorang dokter gigi ini.

Dengan modal sebesar itu, dia bisa memproduksi kerajinan tangan berupa tas, gantungan jilbab, alas kaki, bros, dan tempat tisu. Harganya pun bervariasi, mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah.

“Kalau bros, harganya Rp10.000. Kalau tas, ada yang harganya Rp50.000 sampai Rp500.000,” paparnya.

Dari penjualan kerajinan tangan tersebut, dia berhasil meraup untung hingga puluhan juta per bulan. Omzet per bulannya mencapai Rp8 juta hingga Rp25 juta.

Madya menjelaskan, mula-mula kain goni tersebut dibersihkan, direndam semalam, lalu dicuci. Kemudian, kain-kain tersebut direbus dengan api kecil.

“Lalu, diberi cairan desinfektan untuk menghilangkan bakteri,” ujarnya.

Setelah itu, kain yang telah direbus tersebut dijemur hingga kering, disetrika, lalu dipotong sesuai pola. Proses pengolahannya hanya memakan waktu dua hari.

“Sekarang, saya meminta supplier kami dari Jember untuk membersihkan kain goni dan mencucinya. Tapi, setelah kain ini dikirim, saya juga harus mencucinya sekali,” kata dia.

Sekali produksi, lanjut ibu beranak dua ini, setidaknya membutuhkan sepuluh lembar kain goni. Dari sepuluh lembar itu, bisa tercipta sekitar empat puluh item.

Seluruh proses produksi dilakukan di kediamannya yang terletak di daerah Tanjung Barat, Jakarta. Madya tidak sendirian. Dia dibantu oleh tujuh orang karyawannya yang tuna rungu.

Sebenarnya, lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga ini menuturkan, tidak ada kendala yang berarti dari bisnisnya tersebut. Kalau komunikasi dengan tujuh karyawannya, dia menggunakan bahasa isyarat tangan.

Namun, kalau dari bisnis, Madya mengungkapkan, masih membutuhkan fasilitas dalam memasarkan produknya. “Kami masih membutuhkan fasilitas. Kalau ada yang mau meminjamkan galeri, saya mau. Saya belum punya galeri. Show room ada di rumah,” kata dia.

Pemilik usaha CV Regi’s Indonesia ini telah menembus pasar luar negeri. Akhir-akhir ini, produknya pernah dipromosikan ke China dan Dubai oleh Dinas Perdagangan DKI Jakarta.

Wanita ini juga menerima pesanan kerajinan tangan, baik untuk pribadi maupun suvenir. Jika berminat, pembaca bisa berkunjung ke show room-nya yang berada di Tanjung Barat Selatan Kav. 16 A No. 12 A, Tanjung Barat, Jakarta Selatan, atau bisa mengontaknya di [email protected]

“Kalau bros, minimal pesan 300 item. Tas mukena minimal dua kodi. Ya, tetapi, sebenarnya tergantung item sih, asalkan ongkos kirim ditanggung pembeli,” kata dia.

Source https://www.viva.co.id https://www.viva.co.id/berita/bisnis/458290-olah-karung-goni-perempuan-ini-raup-untung-puluhan-juta-rupiah
Comments
Loading...