Kreasi Kerajinan Papan Catur Untuk Tunanetra Di Magelang

0 134

Kreasi Kerajinan Papan Catur Untuk Tunanetra Di Magelang

Seorang perajin papan catur, Muchammad Sururi, asal Dusun Candi, Desa Sidomulyo, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, membuat papan catur yang bisa dimainkan oleh kaum tunanetra.

Secara khusus, Sururi mendesain papan caturnya agar bisa dimainkan para penyandang tunanetra. Sekilas, bentuk satu set papan caturtuna netra itu tidak jauh berbeda dengan papan catur pada umumnya. Namun, ada detail yang berbeda di setiap sisi papan dan buah catur. Sururi menceritakan, pada awalnya, dirinya membuat papan catur untuk penyandang tunanetra atas permintaan sebuah yayasan di Jakarta yang membutuhkan papan catur khusus untuk orang-orang dengan gangguan penglihatan.

Pria berusia 53 tahun itu lantas melakukan berbagai percobaan mendesain set papan catur agar mudah dipakai oleh mereka. Beberapa tantangan yang dialami saat awal membuat papan catur bagi penyandang tunanetra adalah menemukan cara bagi seorang penyandang tunanetra untuk membedakan buah catur hitam atau putih.

“Ketika itu, saya pakai manik-manik dan pinus untuk menandai warna hitam pada buah catur, sedangkan buah catur putih ditandai dengan cekungan,” ujarnya.

Setelah melakukan percobaan, ternyata penyandang tunanetra masih kesulitan menggunakan papan tersebut. Buah catur mudah jatuh dan cepat rusak. Kemudian, Sururi memasang sumbu yang terbuat dari kayu pada buah catur. Sumbu tersebut berfungsi untuk menancapkan pion, menteri, kuda, raja, ataupun benteng di papan catur yang sudah diberi lubang. Lalu, sisi kanan dan kiri buah catur juga ditempeli huruf-huruf braille yang berfungsi memudahkan seorang penyandang tunanetra menandai langkah.

“Untuk membedakan warna kotak hitam dan putih pada papan catur, saya lapisi cat lebih tebal untuk warna hitam. Penyandang tunanetra bisa merabanya,” kata bapak dari Naili, Arina Rhondhotul Jannah, dan Salis Zulfatus Suroyah ini.

Sementara itu, aturan permainannya sama seperti catur pada umumnya. Di awal, dia mendapat pesanan sekitar 500 set papan catur dari yayasan tersebut pada 2005 silam. Sejauh ini, dia masih membuat papan catur penyandang tunanetra berdasarkan pesanan saja.

Selebihnya, dia membuat papan catur biasa. Dia menerima 10.000 pesanan papan catur dari seorang pengekspor ke Amerika. Keahlian tersebut dia peroleh dari kedua orangtuanya yang dahulu juga seorang perajin papan catur.

“Ini warisan orangtua saya, sejak kecil saya sudah diajarkan menciptakan papan catur. Sampai sekarang masih saya pertahankan, meski sudah banyak permainan modern dan digital,” tuturnya.

Selain itu, suami dari Khusnul Khotimah itu juga mengembangkan kerajinan edukasi untuk anak-anak dari limbah kayu. Dari kerajinan tersebut, Sururi bisa menghidupi keluarga, selain tetap mengemban misi sosial bagi kaum difabel.

Satu set papan catur khusus penyandang tunanetra dengan ukuran 50 x 50 sentimeter dibanderol Rp 250.000. Namun, harga buah caturnya saja Rp 125.000, dan papannya Rp 125.000.

“Bahan material pembuat caturnya berasal dari kayu lokal, yakni kayu sawo dan kayu waru. Semuanya limbah dari pabrik kayu sekitar Kabupaten Magelang dan Temanggung,” kata dia.

 Berkat kepedulian dan keuletannya, Sururi pernah meraih juara I Wirausaha Mikro Favorit Pilihan Masyarakat yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia dan salah satu bank nasional serta juara 2 Wirausaha Mikro Berwawasan Lingkungan Terbaik.
Source http://regional.kompas.com http://regional.kompas.com/read/2016/02/26/19300061/Ini.Dia.Papan.Catur.Khusus.Penyandang.Tunanetra.Buatan.Sururi
Comments
Loading...