Kreasi Kerajinan Tas Eceng Gondok Di Surabaya

0 839

Kreasi Kerajinan Tas Eceng Gondok Di Surabaya

Tas Eceng Gondok hasil olahan pengrajin warga Kebraon Karangpilang, sudah menjadi langganan souvenir tamu penting Pemkot Surabaya dari dalam atau mancanegara. Supardi, warga Kebraon Indah permai Blok C 46 Karangpilang, ini sudah memproduksi 4.000 unit lebih tas eceng gondok untuk peserta PrepCom 3 for Habitat III. Sebelumnya, juga pernah dipesan Pemkot Surabaya untuk dijadikan souvenir tamu pemkot di luar acara Prepcom.

Ia menceritakan sejarah pembuatan tas yang terbuat dari eceng gondok hingga menjadi langganan bagi tamu Pemkot Surabaya. Awalnya, ada pelatihan kerajinan eceng gondok yang digelar persatuan istri purnawirawan TNI Polri yang dikhususkan keluarga miskin (gakin) di perkampungannya. Karena jumlah peserta gakin kurang dari 30 orang, Wiwit Manfaati, istri Supardi pun mengikuti pelatihan tersebut. Dari pelatihan di tahun 2007 itu, Wiwit terus berlatih membuat kerajinan tangan yang berbahan baku dari eceng gondok.

Rupanya, banyak tetangga tertarik dan membeli buah tangannya. Namun, semuanya diberikan secara cuma-cuma. Seiring berjalannya waktu, Pemkot Surabaya mendengar bahwa warganya di Kebraon bisa membuat kerajinan tangan tas dari eceng gondok. Supardi dan istrinya pun diminta untuk memaparkan produk kerajinan tas eceng gondok di Badan perencanaan pembangunan kota (Bappeko) Surabaya.


Hasil pemaparan tersebut membuat kesengsem pengurus PKK Kota Surabaya dan meminta pasangan suami istri ini membuat tas eceng gondok untuk mengikuti pameran UMKM di Gramedia Expo.

“Awalnya kita tidak menanggapi serius untuk mengikuti pameran, karena saya dan istri saya ini berfikir ibaratnya masih unyu-unyu sudah ikut pameran. Saat pameran ternyata banyak respon positif dari pengunjung,” ujarnya.

Respon positif itu membuat Supardi dan Wiwit Manfaati menseriusi memproduksi tas eceng gondok. Pekerjaan Supardi menjadi sopir mobil rental pun mulai dikurangin dan lebih fokus memproduksi tas eceng gondok.

Untuk harga pasaran, tas olahan produk Supardi ini senilai Rp 200-250 ribu per unit. Omset dari penjualan tas eceng gondok ini sekitar Rp 10-20 juta per bulan dan menurutnya sudah lumayan. Supardi juga mengaku senang dapat mempekerjakan warga sekitar, terutama ibu-ibu untuk membuat anyaman, pemolaan tas eceng gondok.

“Saya senang, tetangga khususnya ibu-ibu punya pekerjaan. Tidak hanya tetangga sini saja yang terlibat proses pembuatan tas. Juga melibatkan warga Kebraon, Wiyung, Bangkingan, Lakarsantri,” tuturnya.

Kini Supardi dan istrinya sering menjadi mentor di berbagai acara pelatihan kerajinan tangan yang dilakukan beberapa dinas di lingkungan Pemkot Surabaya. Termasuk memberikan pelatihan bagi gelandangan, pengemis di Liponsos, Keputih, Sukolilo. “Sekarang ada tambahan, menjadi pengajar kerajinan tangan yang terbuat dari eceng gondok. Ya membuat tas, bikin keset, sulaman,” tuturnya.

Source https://news.detik.com https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3262652/tas-eceng-gondok-warga-kebraon-jadi-langganan-souvenir-tamu-pemkot-surabaya?_ga=2.184088676.31111911.1524099710-2015879252.1524099710
Comments
Loading...