Kreasi Kerajinan Tas Karung Goni Di Jakarta

0 597

Kreasi Kerajinan Tas Karung Goni Di Jakarta

Menciptakan sesuatu yang bernilai jual tinggi, tidak harus selalu menggunakan bahan baku baru dan terkadang mahal. Bahan baku bekas yang kadang banyak berserakan di sekitar kita bisa sangat berguna. Hal ini yang coba dilakukan perempuan muda bernama Raezika Radhina Puri.  Ia mencoba membuat barang-barang bernilai tinggi dari karung goni bekas.

Di bawah bendera merek Dynu, karung goni yang biasanya hanya dipakai sebagai pembungkus beras maupun komoditas pertanian lain, disulap menjadi sejumlah produk fashion hingga perlengkapan rumah. Ide membuat produk dari karung goni muncul ketika Dhina bertemu dengan seorang warga negara Jepang yang memakai tas unik berbahan baku karung goni.

Sayang, menurut dia, bahan tas tersebut bukan karung goni asli, melainkan campuran sintetis, sehingga tidak tahan lama dan mudah berjamur. Terbersit dalam pikiran Dhina, peluang untuk membuat suatu barang dari karung yang biasa dipakai untuk membungkus gabah ini. Alhasil, pada 2011 Dhina pun mulai merintis usahanya dari nol.


“Kemudian kami mencari pengrajin karung goni yang memang benar-benar asli. Akhirnya mulai dikembangkan dan mulai mengikuti apa yang diinginkan pasar. Orang Indonesia yang paling konsumtif itu kan perempuan sehingga kami buat yang tidak jauh dari fashion,” ujar dia di rumahnya di Jakarta.

Dengan modal sekitar Rp 50 ribu, untuk membeli karung goni, benang dan peralatan menjahit seadanya, Dhina mulai membuat produk dari karung goni dengan keterampilan seadanya.

Dia kemudian memakai merk Bynu untuk produk-produknya tersebut. Menurutnya, nama ini dapat berarti berbeda dalam 4 bahasa, seperti dalam bahasa Perancis dan Jerman yang berarti nomor 1, dalam bahasa Inggris artinya beli sesuatu yang baru dan dalam bahasa Jawa yang artinya air.

“Ini eksperimen sendiri, produk karung goni sendiri sebenarnya sudah ada sebelumnya. Proses trial and error sekitar 1 tahun sampai kita temukan antiseptik karungnya yang aman untuk anak-anak dan ibu hamil. Kemudian bagaimana cara paling tidak mengurangi bau pada karung goni,” lanjut dia.

Alasan memilih kerajinan dari karung goni ini, Dhina menilai karena kerajinan seperti ini sebenarnya telah ada namun masih belum dikenal luas, sehingga dia pun ingin lebih memperkenalkan jenis kerajinan ini sekaligus mendukung program global warming dan 3R (reuse, reduse, recycle). “Sampai sekarang ternyata interest-nya cukup baik terhadap produk dari karung goni ini,” ungkapnya.

Proses Pembuatan Kerajinan Karung Goni

Proses pembuatan kerajinan ini terbilang cukup rumit, karena membutuhkan waktu yang cukup panjang dan beberapa kali proses pencucian untuk menghilangkan kotor dan bau pada karung goni. Karung yang masih kotor, dicuci dikeringkan dan dipotong. Kemudian disambung dengan cara dianyam ulang pada sambungannya, sehingga berbentuk gulungan kain.

Setelah itu dicuci ulang, diberikan antiseptik, kemudian ada yang di-bleaching. Setelah bersih kemudian dibentuk pola, dipotong dan dicuci ulang untuk finishing. Selanjutnya disetrika uap agar bebas dari bakteri dan kutu.

Untuk bahan baku utama berupa karung goni, Dhina mengaku mendatangkan langsung dari wilayah Jember, Jawa Timur karena di wilayah tersebut masih banyak pabrik-pabrik yang menggunakan pembungkus dari karung goni. Selain itu, di Jember jenis karung goni yang tersedia jauh lebih lengkap dibanding di wilayah lain, seperti besar kecil anyaman berbeda-beda sesuai dengan serat yang dipakai dan fungsi dari karung goni tersebut.

“Di Jakarta sebenarnya ada tetapi mungkin karena karungnya sudah digunakan kesekian kali sehingga karungnya sudah tidak mumpuni untuk diolah atau seratnya karungnya yang terlalu besar,” ujarnya.

Source http://bisnis.liputan6.com http://bisnis.liputan6.com/read/672820/dynu-menyulap-karung-goni-bekas-jadi-pundi-uang
Comments
Loading...