Pameran Gerabah Di Bentara Budaya Jakarta

0 364

Pameran Gerabah Di Bentara Budaya Jakarta

Gerabah dan keramik hadir kembali di Bentara Budaya. Kali ini, giliran Bentara Budaya Jakarta mengadakan pameran yang yang menampilkan pameran dari dua daerah yang berbeda yaitu gerabah dari Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah dan gerabah dari Sitiwinangun, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. FYI, gerabah adalah perkakas yang terbuat dari tanah liat atau lempung yang dibentuk kemudian dibakar untuk dijadikan alat-alat yang berguna untuk membantu kehidupan manusia.

Pameran gerabah di Gedung Bentara Budaya Jakarta, Jalan Palmerah Selatan 17, Jakarta Pusat akan berlangsung pada tanggal 4 sampai 9 April 2017, pukul 10.00-18.00 WIB. Mengusung tema “Antara Sitiwinangun dan Pagerjurang Bayat ”, akan memamerkan sekitar seribu gerabah hasil dari para perajin. Gerabah yang dipamerkan, dijual dengan harga terjangkau mulai Rp 2.000 hingga 4 Juta.

Peresmian pameran ini dihadiri oleh para perajin, seniman, dan tokoh adat. Acara ini dibuka oleh Sepuh XIV Keraton Kasepuhan Cirebon PRA Arief Natadiningrat bersama dengan selebritas Lola Amaria. Arief Natadiningrat mengatakan bahwa, sekarang orang menggunakan dispenser, atau bahan plastik. Akibatnya, karena desakan ekonomi, perajin gerabah di Dusun Caplek, dan Dusun Kebagusan, Sitiwinangun, sempat beralih menjadi pembuat kerajinan dari bahan ban bekas.

“Dulu tahun 1970-an ada lebih dari seribu perajin gerabah. Kini tinggal sekitar 36 keluarga perajin gerabah,” kata Ratija Brata Menggala, di Gedung Bentara Budaya

Dalam pameran ini, gerabah dari dua daerah tersebut hadir enggak hanya sebagai produk kerajinan. Di balik itu, ada pergulatan hidup para perajinnya. Ada sejarah panjang yang meneguhkan para perajinnya untuk terus menjaga warisan budaya leluhur mereka. Warga Sitiwinangun meyakini perjalanan gerabah itu sudah dimulai sejak abad ke-13. Begitu pula gerabah dari warga Bayat, dipercaya warga sudah hadir sejak jaman Sunan Panandaran ratusan tahun lalu. Selama pameran berlangsung, acara juga menampilkan demo teknik putaran miring dari Pagerjurang Bayat.

Teknik putaran miring ini merupakan fenomena budaya di Pagerjurang, bentuk konkret perkawinan harmonis antara nilai-nilai etika dan teknologi,s erta sumber daya lokal. Teknik unik ini biasa digunakan para wanita, tetap terlihat sopan meskipun mereka berkebaya dan kain jarik.

Memang ada aspek ekonomi di balik pembuatan gerabah di kedua daerah tersebut. Mereka jatuh bangun menghadapi perubahan zaman. Gerabah yang suatu masa menjadi benda fungsional dalam aktivitas sehari-hari, kemudian digeser oleh produk pabrik. Akan tetapi, dengan segala jatuh bangunnya itu, nyatanya gerabah Sitiwinangun dan Bayat tetap bertahan sampai hari ini. Ada sebuah keuletan budaya yang menjadikan gerabah rakyat itu tidak mudah pecah.

Source https://www.kincir.com https://www.kincir.com/chillax/travel-leisure-places/ekspresi-budaya-pada-pameran-gerabah-di-bentara-budaya-jakarta
Comments
Loading...