Pengrajin Cobek Gerabah Di Pasuruan

0 545

Pengrajin Cobek Gerabah Di Pasuruan

Ada yang menarik jika jalan-jalan ke sebuah pemukiman di Dusun Pancen, Desa Petahunan, Kecamatan Gading Rejo, Kota Pasuruan. Hampir tiap sudut jalan, warga sekitar terlihat sibuk bekerja membuat cobek tanah liat. Kesibukan tersebut terlihat karena di Dusun Pancen ini memang dikenal sebagai sentra industri kecil kerajinan cobek dan gerabah tanah liat di wilayah Kota Pasuruan.
Tiap cobek yang dihasilkan, sedianya dijual ke sejumlah tengkulak dengan harga sebesar Rp 700, meningkat dibanding pada hari-hari sebelumnya yang hanya senilai Rp 300 per cobek. Tengkulak yang mengambil cobek di tempat ini biasanya berasal dari wilayah Pasuruan dan sebagian wilayah Lawang, Malang.
Jika pengrajin menjual sendiri ke pasaran secara eceran, harga cobek dikatakan semakin meningkat menjadi Rp 3.000 tiap cobek. Namun, menjual eceran dengan berkeliling ke sejumlah pasar jarang dilakukan karena dianggap lebih menghabiskan waktu dan biaya yang dikeluarkan juga bertambah tinggi. Akan tetapi, bertambahnya penghasilan tersebut ditegaskan hanya didasarkan pada peningkatan harga semata, tanpa dibarengi dengan adanya peningkatan jumlah produksi. Karena seorang pengrajin tiap hari hanya mampu membuat cobek paling banyak 100 biji saja.
Hal tersebut dimungkinkan karena proses pembuatan cobek dilakukan dengan tangan, dibantu peralatan tradisional dan tidak ada mesin khusus secara modern yang mampu meningkatkan jumlah produksi. Pola bekerja pengrajin cobek di Dusun ini tergolong cukup unik. Sebelumnya beberapa pengrajin dalam satu kelompok berjumlah antara 10 hingga 15 pengrajin, mengumpulkan uang dengan besaran rupiah tertentu untuk dapat digunakan sebagai modal awal usaha.
Dari bahan baku tanah liat lalu dibagikan sama rata kepada masing-masing pengrajin dalam kelompok, untuk selanjutnya diolah dan dibentuk menjadi cobek setengah jadi.
Setelah berhasil dikeringkan dengan dijemur dalam terik matahari, biasanya pengrajin mengeluarkan ongkos kembali untuk bahan bakar tungku api berupa kayu bakar dan jerami, serta adanya tambahan biaya untuk tenaga angkut ke lokasi tungku yang sebelumnya telah dipersiapkan dan dibangun di satu tempat terdekat secara swadaya.
Tungku pembakaran cobek Dusun Pancen berada di tiga titik dengan kapasitas tungku sebanyak 3.000 cobek. Berlokasi di rumah warga bernama Sumarni, Parto dan Dahlan. Dan tungku pembakaran tersebut sekaligus sebagai gambaran bahwa terdapat tiga kelompok sebaran pengrajin cobek Dusun Pancen.
Salah seorang pengrajin cobek, Sundari, ditemui di depan rumahnya, menuturkan bahwa aktifitas membuat cobek dimulai sejak ia masih berusia 15 tahun. Ia mengakui jika keahliannya ini dapat menambah penghasilan dan membantu suaminya yang sehari-hari sebagai tukang kayu di sebuah meubel di wilayah Bukir. Meskipun hasil yang diperoleh tidak sepadan dengan tenaga yang dikeluarkan.
Source http://warungkopipasuruan.blogspot.co.id http://warungkopipasuruan.blogspot.co.id/2011/10/mengintip-pengrajin-cobek-pasuruan.html
Comments
Loading...