Sentra Kerajinan Alat Dapur Di Klaten

0 359

Sentra Kerajinan Alat Dapur Di Klaten

Suasana di rumah Sapto itu adalah bagian kecil dari potret kehidupan masyarakat Tegalsari, Kranggan, Polahnharjo, Klaten. Puluhan tahun desa yang terletak di sebelah barat Kota Delanggu Klaten itu menjadi sentra alat dapur. Serok, sutil, dan pisau adalah nafas hidup banyak orang di desa Tegalsari. Sapto salah satunya.

Sudah 12 tahun lelaki 38 tahun ini memutuskan meneruskan usaha yang dimulai kakeknya dan pernah diteruskan bapaknya itu. Kini, Sapto menjadi salah satu yang sukses di bisnis ini. Ia mempunyai empat pegawai. Dengan mereka, Sapto bisa menghasilkan 800 biji serok alumunium dan 300 biji serok stainless steel setiap minggunya. “Kalau saya khusus membuat serok, Mbak. Yang lain ada yang membuat sutil, ada juga pisau,” ujar Sapto tanpa berhenti dari pekerjaannya membungkus serok.

Sapto memang tak sendiri, tepat di belakang rumahnya, ada Suyamto seorang diri yang tengah membungkus ratusan pisau ke dalam plastik. Suyamto adalah paman Sapto. Sudah 30 tahun lebih ia membuat pisau dari alumunium dan stainless steel. Pria dengan tiga orang anak ini memang tak punya pegawai. Sesekali anaknya yang masih Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan istrinya yang akan membantunya. Namun begitu, 200 kodi pisau dengan ia hasilkan setiap bulan.

Baik Sapto maupun Suyamto mengaku bisnis mereka cukuplah mudah dan menguntungkan. Para pembuat alat dapur itu tak risau dengan bahan baku ataupun pemasaran. Untuk bahan baku, mereka akan mendapat pasokan dari Solo dengan harga murah. Para pemasok akan datang tiap minggu ke Tegalsari untuk mengantarkan bahan baku. “Itu (alumunium.Red) barang sisa pabrikan di Solo, Mbak. Jadi harganya miring,” terang Sapto.

Bahkan, untuk pembuatan pisau, Suyamto bercerita ia memakai sisa bahan dari pembuatan serok di tempat Sapto. Mata pisau ia buat dari stainless steel atau alumunium bekas. Dan gagangnya, ia memanfaatkan potongan gagang serok dari Sapto yang tidak terpakai. “Kalau gagang pisau kan pendek jadi memanfaatkan sisa gagang serok saja. Daripada dibuang, di sini bisa saya pakai,” Suyamto tertawa. Dengan begitu, para perajin bisa saling bantu, dan sisa bahan tidak banyak terbuang.

Pun soal pemasaran, setiap pengusaha di Tegalsari sudah memiliki pelanggan masing-masing yang akan mengambil barang langsung ke tempat itu. “Kalau saya biasanya masok untuk Jogja dan Pekalongan yang banyak. Kalau daerah Solo ya ada beberapa,” Jawab Sapto saat ditanya pemasaran barangnya. Sedang Suyamto memilih luar Jawa sebagai ladang bisnis pisaunya. Sebulan satu sampai dua kali ia akan mengirimkan pisau untuk pasar Bali dan Kalimantan.

Untuk harga, baik serok maupun pisau variatif tergantung bahan dan model barang. Di tempat Sapto, serok stainless steel dihargai Rp75.000 per lusin. Sedangkan yang dari alumunium lebih murah hanya Rp22.000 per lusin. Untuk pisau, harganya Rp25.000 hingga Rp50.000 per kodi.

Source http://duranafisah.blog.uns.ac.id http://duranafisah.blog.uns.ac.id/2016/02/12/desa-makmur-karena-alat-dapur/
Comments
Loading...