Sentra Kerajinan Anyaman Kepang Di Bojonegoro

0 232

Sentra Kerajinan Anyaman Kepang Di Bojonegoro

Jika memasuki desa sedahkidul, tentunya terkesan biasa saja. Namun jika masuk lebih dalam lagi, maka tampaklah wajah asli desa sedahkidul dengan kehidupan sederhana, tradisional penuh dengan keramahan. Seperti halnya dusun tempat saya tinggal ini. Wilayah RT.7 dan 8 desa sedahkidul ini berada masuk sekitar 500 meter dari jalan raya. “Pencol”, ya begitulah warga setempat menyebutnya. Mungkin karena bentuk wilayahnya yang menjorok ke arah luar (mencol- dalam bahasa setempat).
Wilayah pencol ini dihuni sekitar 69 Keluarga dan seluruhnya beragama islam dengan mayoritas kehidupan sebagai petani. Daerah ini diapit oleh dua buah sungai. Di sebelah timur ada Sungai Gandong dan sebelah barat ada Sungai Jambe. Jika kemarau tiba, sungai ini mulai kering. Di sekeliling tempat ini berpagar rumpun-rumpun bambu yang tebal. Menurut warga setempat, jaman dahulu rumpun bambu ini digunakan sebagai pelindung pemukiman penduduk dari angin dan topan. Sampai sekarang pohon ini masih dilestarikan.
Penduduk setempat masih menggunakan bambu ini sebagai tambahan bahan bangunan rumah seperti usuk, reng dan dinding atau penyekat ruang yang sering disebut kepang. Yaitu anyaman dari bambu yang dibuat secara melebar sehingga dapat digunakan untuk sekat, dinding atau plafon. Kalau Anda ingat istilah “jaran kepang”, maka nama itu diambil dari asal bahannya yang berupa mainan jaranan seperti kuda-kudaan yang terbuat dari kepang atau anyaman bambu ini.
Di pencol ini terdapat 4 keluarga pembuat kepang karena tidak banyak orang yang bisa melakukan pekerjaan ini. Memotong bambu dari rumpunnya, membilah dan mengirat, serta membuat anyaman membutuhkan ketrampilan dan ketekunan khusus. Sehingga sebagian orang tak mampu melakukan pekerjaan ini.
Lain halnya dengan Jarmin. Warga RT.7 yang rumahnya paling timur ini mampu membuat kepang dengan rapi. Bakat ini ia dapat dari ayah dan ibunya almarhum, yang juga pembuat kepang. Ayah 1 anak ini mampu membuat 2 lembar kepang ukuran 2 meter X 1,5 meter dalam sehari. Ditangannya, 1 buah pohon bambu seharga Rp 6.000,- di ubah menjadi 3 lembar kepang yang dijual Rp 24.000,- dan masih tersisa sepotong pucuk bambu seharga Rp 3.000,- yang biasanya digunakan untuk usuk rumah.
Ketika di temui di rumahnya ia sedang membuat kepang pesanan tetangganya ukuran 2 meter X 2,5 meter. Menurutnya, kalau kepang pesanan seperti ini ia mematok harga Rp 5.000,- tiap meter persegi. Jadi luas selembar kepang ukuran 2 X 2,5 adalah 5 meter persegi dikalikan 5 ribu. Itulah harga selembar kepangnya.
Namun penghasilannya dari pembuat kepang itu belum mampu mencukupi kebutuhan keluarganya. Ia berharap ada pelatihan untuk peningkatan kemampuan.
“Saat ini ia hanya bisa membuat kepang. Siapa tahu nanti ada pelatihan membuat anyaman bambu menjadi barang lainnya yang memiliki nilai jual lebih. Sehingga mampu meningkatkan penghasilan” ujarnya sambil mengayam kepang.
Source http://www.kimsendangpotro.or.id http://www.kimsendangpotro.or.id/2014/06/pengrajin-kepang-dan-keranjang-bambu.html
Comments
Loading...