Sentra Kerajinan Bambu Di Trenggalek

0 369

Sentra Kerajinan Bambu Di Trenggalek

Mahrus Ali adalah satu dari puluhan perajin bambu di Desa Wonoanti yang hidup dengan menggerakkan sumberdaya alam bambu yang melimpah di desanya. Dalam sehari, usahanya bisa memproduksi 2 kuintal tusuk sate dari bambu. Bapak tiga anak itu menjual tusuk sate dalam satuan kilogram. Per kilogram ada yang Rp 12.000, ada yang Rp 13.500. “Tergantung jenis ukuran dan peruntukannya,” terang Mahrus. Tidak jauh dari rumah Mahrus Ali, di desa yang sama, Murdi sedang mengencangkan tali rotan pengikat kursi bambu. Ia sedang mengerjakan finishing kursi bambu pesanan warga Surabaya, yang tiga hari lagi akan dijemput pemiliknya. Di tempat Murdi, bambu diolah menjadi barang yang lebih memiliki nilai ekonomis.

Soekatno, pemilik pusat kerajinan bambu itu mengubah tumbuhan jenis rerumputan menjadi perabotan berbentuk kursi, tempat tidur, tempat makanan, dan keranjang hingga hiasan, dan alat musik angklung. Tidak hanya itu, tangan-tangan kreatif pekerjanya di bengkel “Bambu Indah Craft” juga mampu mengubah bambu menjadi gazebo yang indah untuk diletakkan di halaman rumah. “Pagar, kran air, dan dinding kamar mandi, bisa kita buat dari bambu,” katanya kepada Kompas.com akhir pekan lalu. Tanaman bambu yang banyak tumbuh di lahan-lahan tidur itu mengubah nasib pria 58 tahun itu sejak 26 tahun terakhir.

Tidak hanya keuntungan finansial yang didapat. Kebanggaan karena berhasil mengubah citra penganyam bambu yang sebelumnya identik dengan pekerjaan murahan menjadi pekerjaan terhormat terbukti mampu mengangkat perekonomian warga di desanya. “Dulu, Desa Wonoanti terkenal dengan desa miskin. Pekerjaan menganyam bambu disebut pekerjaan rendah dan murahan, saya sering diejek teman dari desa lain,” jelasnya. Kini, menganyam menjadi keahlian yang dapat mendatangkan banyak rupiah, karena Katno melibatkan warga Desa Wonoanti untuk mengerjakan order anyaman dan produk bambu lainnya.

Terlebih, pasar produk bambunya pernah tembus ke pasar Eropa dan Asia. Sayangnya, sejak 7 tahun terakhir, dia menghentikan aktivitas ekspornya ke luar negeri karena alasan ketidakcocokan harga yang dipasang eksportir. “Harganya terlalu rendah, pengrajin di sini menolak. Lebih untung memproduksi untuk pasar lokal,” terang Bibit Andayani, isteri Soekatno. Meski hanya memasok kebutuhan pasar dalam negeri, usaha kerajinan tangan bambu yang dijalankan Soekatno terbilang maju. Omzetnya tiap bulan mencapai Rp 100 juta. Dalam menjalankan bisnisnya, ia dibantu 50 pekerja. Mereka memproduksi handycraft bambu untuk memenuhi permintaan pasar. Di Trenggalek, tempat usahanya selalu menjadi rujukan tamu-tamu penting kepala daerah. Bupati Trenggalek, Emil Elistyanto Dardak kerap membawa mampir tamunya dari dalam maupun luar negeri sebagai upaya promosi produk Usaha Kecil Menengah (UKM) khas Trenggalek.

Source https://regional.kompas.com https://regional.kompas.com/read/2017/09/30/07193991/ekonomis-dan-ekologis-bambu-trenggalek-1
Comments
Loading...