Sentra Kerajinan Barongsai D Bogor

0 215

Sentra Kerajinan Barongsai D Bogor

Di balik pertunjukan barongsai yang enerjik ternyata ada kreativitas dan keuletan sang pembuatnya. Salah satu pengerajin barongsai yang eksis hingga ke mancanegara ialah Lily Hambali. Pria 57 tahun ini masih terampil merangkai bagian-bagian barongsai dan liong hingga siap dipentaskan. Keramaian Tahun Baru Imlek di berbagai kota di Indonesia kerap diramaikan hasil karyanya. Buah keterampilan tangannya kini bahkan telah mencapai berbagai negara. Mulai Malaysia, Singapura, Jepang, Eropa, hingga Arab Saudi. Beralamat di Jalan Roda, Gang Angbun, Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, ia memulai usahanya sejak tahun 2000.

Kini bengkelnya terkenal dengan nama Lily Barong. “Dulu awalnya nemu barongsai di rumah om (rekan kerja), tapi ditutupi box karena masih tabu. Akhirnya coba dimainkan tuh, pas kampanye politik. Ternyata ramai,” ujarnya. Dua Barongsai memeriahkan peresmian kantor pusat Kaspersky Asia Pasifik di Singapura. Nampak di belakangnya CEO Eugene Kaspersky dan Stephan Neumeier selaku Managing Director of Kaspersky Lab Asia Pacific. Pasca reformasi, menurutnya barongsai masih sangat tabu untuk dimainkan, ia pun baru melihatnya saat itu.

Ia lantas memberanikan diri untuk memainkannya pada saat kampanye pemilu suatu partai, di Kota Bogor. Tak disangka, penonton yang menyaksikan pertunjukannya memenuhi jalan-jalan di Suryakencana, Bogor. Mereka nampak antusias, meski Lili dan rekannya bermain sangat alakadarnya. Lepas itulah ia mulai tertarik dengan barongsai, dan mencari tahu lebih dalam. Ia memulai menjadi tukang reparasi barongsai yang perlahan mulai dikeluarkan dari beberapa klenteng di Indonesia. “Kalau dulu kita benerin idungnya aja bisa sebulan, baru rampung,” sanggahnya sembari tertawa pada KompasTravel yang saat itu bersama wisatawan dari Jakarta Food Adventure yang usai berwisata di Suryakencana, Bogor.

Di bengkel barongsai Lili Hambali, Bogor, bisa melihat proses pembuatan Barngsai ini. Pengerajin barongsai di Bogor kebanjiran order menjelang Imlek. Proses belajar dan kesulitan bahan baku pun lama kelamaan menemui jalan terang. Beberapa kali ia bertemu orang yang membantunya, mulai dari mendatangkan bahan baku dari China, memberi saran-saran pembuatan, hingga menjembataninya dengan calon pembeli di berbagai negara. “Saya otodidak aja belajarnya, dari reparasi itu dulunya.

Terus teman dari Jakarta banyak yang kasih saran dan bantuan, sampai satu-dua tahunan baru mulai ramai bikin,” terangnya. Untuk menjaga kualitas, kini ia masih menggunakan beberapa komponen yang diimpor langsung dari China. Menurutnya bukan tak percaya produk dalam negeri, tetapi teknologi di Indonesia belum ditemui yang bisa membuat bulu sehalus itu. “Kalau jaga kualitas memang harus impor, bulu dombanya. Di Indonesia belum ada yang bisa ngolah bulu domba dari negara dingin, jadi berwarna dan halus banget kaya gini,” terangnya sembari menunjukan bulu domba Australia yang amat halus.

Kualitas yang ia jaga tersebut membuat barongsainya menjadi langganan banyak tempat. Mulai Aceh, Medan, Lampung, Bangka Belitung, Pontianak, hingga Timika, Papua. Sementara, di luar negeri karyanya dipesan berbagai negara Asia hingga Arab Saudi. Pengerajin barongsai di Bogor kebanjiran order menjelang Imlek. “Asia udah dipesan dari Singapura, Malaysia, Jepang, sampe Arab. Kalau di Arab, dia izin dulu sama kerajaan, katanya boleh asal tidak berbau mistis.

Murni kesenian dan olahraga,” jelasnya. Kini keuletannya berbuah manis. Pesanan barongsai pun terus mengalirdari berbagai kota dan negara. Bahkan ia tak sungkan untuk menolak pesanan dikala mendekati Tahun Baru Imlek ini. “Waduh kita ga pernah ngitung berapa produksinya sekarang. Buat Imlek si dari Oktober udah masuk (dipesan). Jadi kalau Januari itu udah nolak-nolakin pesenan aja, terutama liong,” terangnya. Bahkan untuk perayaan Imlek tahun depan (2019) ia mengaku sudah ada yang pesan. Bagi pesanan yang ia tolak biasanya ditawarkan alternatif reparasi, atau barongsai second olehnya. Itupun jika ada persediaan di bengkelnya.

Meski usahanya mengalami kemajuan dari 17 tahun yang lalu, ia kerap menemui kesulitan hingga saat ini. Kesulitan utamanya saat mendatangkan ornamen kepala dan bulu domba yang impor, proses perizinannya semakin sulit. Pengerajin barongsai sedang membuat bagian rahang bawah liong, di Bengkel Barongsai Lili Hambali, Babakan Pasar, Bogor Tengah. “Sekarang semakin sulit impor dari China, kurang tau ni apa peraturan pemerintahnya atau gimana. Paling sama cuaca Bogor aja kan memang Kota Hujan, jadi harap maklum,” tuturnya sembari bergurau.

Untuk membuat satu barongsai utuh, ia butuh waktu satu minggu. Untuk liong dengan panjang sekitar delapan meter butuh waktu dua hingga tiga mingguan. Dengan syarat cuaca Bogor yang cerah, sehingga proses penjemuran bisa cepat. Untuk satu barongsai utuh ia jual seharga Rp 5,5 juta. Sementara, liong mulai RP 7.5 juta. Harganya yang ekonomis dengan kualitas ekspor inilah yang membuatnya unggul dibanding pembuat barongsai lain. Menurutnya kini pembuat barongsai di Indonesia amat jarang, di Jabodetabek hanya dia. Selain itu ada lagi di Semarang. Tak hanya membuat barongsai dan liong. Kini ia juga memiliki grup barongsai yang digeluti bersama para karyawannya. Seminggu sekali ia kerap berlatih, terutama saat padatnya jadwal pentas. Barang yang dulu tabu baginya, kini perlahan telah “menghidupi” keluarganya. Ia berharap ke depan akan semakin lancar, dan pemerintah lebih memperhatikan usaha kecil pelestari budaya sepertinya.

Source https://travel.kompas.com https://travel.kompas.com/read/2018/02/05/202000327/lily-hambali-perajin-barongsai-yang-tersohor-hingga-arab-saudi
Comments
Loading...