Sentra Kerajinan Batik Betawi Di Jakarta

0 314

Sentra Kerajinan Batik Betawi Di Jakarta

Serupa dengan batik-batik yang ada di berbagai daerah di Indonesia, Jakarta yang merupakan pusat budaya Betawi juga memiliki kain batik dengan corak khasnya sendiri yang disebut Batik Betawi. Namun eksistensinya tidak sementerang batik lainnya. Umumnya masyarakat familiar dengan Batik Solo, Pekalongan dan lainnya, Batik Betawi seakan-akan tenggelam dibalik keharuman nama besar batik-batik dari daerah lain.

Namun hal ini tidak mengendurkan semangat Nur Yaum Rachmat untuk terus memproduksi sekaligus melestarikan Batik Betawi. “Banyak juga yang tidak tahu Betawi atau Jakarta ternyata punya batiknya sendiri” tuturnya di rumahnya di Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta. Nur Yaum sendiri tidak terlalu paham mengenai asal –usul Batik Betawi. Sepengetahuannya Batik Betawi sudah sedari dulu ada di beberapa wilayah Jakarta.

Sedikit informasi didapatkan di buku Suwati Kartiwa yang berjudul  “Batik Betawi: Dalam Perspektif Budaya Kreatif”, mengatakan bahwa kemungkinan besar asal usul batik betawi berasal dari asimilasi masyarakat jawa dari daerah pesisiran penghasil batik dengan masyarakat betawi yang menyatu, berkumpul serta tinggal dalam waktu yang lama pada satu lingkungan kota Batavia lalu menyebarkan budaya mereka dalam bentuk kain batik

Nah, Gandaria yang menjadi tempat tinggalnya Nur tersentuh batik berkat seorang perempuan Betawi bernama Hj. Umi Sumiyati. Bisa dibilang Umi Sumiyati merupakan penggagas utama Batik di Gandaria. Umi ini telah lebih dari tiga dekade mengulik tradisi batik baik di Semarang maupun Jakarta. Kepiawaiaan Hj. Umi Sumiyati membatik ditularkan kepada masyarakat Betawi di berbagai kampung.

Dan tak terkecuali Nur Yaum Rachmat yang memperoleh kepandaian membatik dari Hj. Umi Sumiyati. Berbekal pengetahuan membatik, Nur Yaum mencoba membuat batik tulis dan cetak sendiri dalam jumlah terbatas. Nur memulai usaha batik yang bernama Batik Betawi Gandaria ini sedari tahun 2012 di rumahnya. Alasannya sederhana karena Nur sendiri berasal dan lahir di Jakarta dan ingin melestarikan kebudayaan Betawi. Menurutnya antara satu batik dengan batik lainnya sebenarnya sama saja dengan batik-batik yang sudah ada di Indonesia, namun yang membedakan adalah pada motifnya.

Motif batik memiliki makna tersendiri, lain motif lain pula makna. Jika Batik Solo dikenal dengan motif jenis parang, motif batik solo jenis barong, motif batik solo jenis kawung dan motif batik solo jenis sawat. Motif Batik Betawi banyak mengambil dari unsur-unsur kebudayaan Betawi semisal ondel-ondel, alat musik tradisional Betawi dan yang lainnya. Tapi kini motif itu diperluas dengan motif seperti bunga-bungan-an. Dan juga pemilihan warna biasanya cenderung pesisir dan warnanya terang-terang, misalnya oranye, hijau dan warna lainnya.

Dalam menjalankan usahanya, Nur tidak bekerja sendiri melainkan dibantu oleh tiga orang tenaga kerja yang didatangkan dari luar daerah seperti Pekalongan dan sekitarnya. Masing-masingnya memiliki pekerjaannya tersendiri. Ada yang bekerja sebagai tukang cap dan pewarnaan. Lantaran tidak semua bisa mengerjakan pewarnaan, Nur pun datangkan orang yang mengerti soal pewarnaan dari Pekalongan “Bengkel” pengecap-an dan pewarnaan sendiri dilakukan di dekat rumahnya

Nur mengatakan rata-rata orang memesan batik cap, sedangkan batik tulis jarang dipesan karena produksi batik tulis lama dalam pengerjaan. Beda dengan batik cap yang pengerjaan lebih cepat. “Agak sedikit mahal harga batik tulis kalau orang bilang, tetapi jika dilihat dari pengerjaannya yang membutuhkan proses yang lumayan lama, sepertinya setimpal dengan harganya” tuturnya.

Untuk bahan baku Batik Betawi didatangkan dari Pekalongan. Nur memesan cap motifnya pun dari Pekalongan. Di rumahnya, bahan baku itu kemudian di proses hingga menjadi Batik Betawi. Dalam hal pendistribusiannya, Batik Betawi Gandaria dijual Nur di beberapa tempat di Jakarta, seperti di Graha Balaikota, toko-toko kerabatnya di Pasar Mayestik, dan Kota Kasablanka.  Kebanyakan Batik Betawi dipesan oleh dinas-dinas yang memintanya untuk dibuatkan baju atau yang memesan dan hadiah ke teman-temannya. Kisaran harga yang ditawarkan, Batik satu warna dibandrol Rp 125.000 dan Rp 150.000 – Rp 180.000 untuk per-dua meter yang lebih dari satu warna. Per-dua meter untuk satu baju.

Source https://bisnisukm.com/ https://bisnisukm.com/tetap-semangat-produksi-batik-betawi-meski-penjualan-sulit.html
Comments
Loading...