Sentra Kerajinan Batik Tulis Di Sumenep

0 200

Desa Pakandangan Barat, Bluto, Sumenep, sudah terkenal sebagai sentra produksi batik tulis sejak zaman Belanda. Bahkan, sentra kerajinan batik tulis di desa ini sudah mulai kondang sejak Kerajaan Sumenep masih eksis hingga berakhir di bawah kekuasaan Ario Prabuwinoko pada tahun 1926-1929.

Tak heran, bila motif batik buatan desa ini banyak dipengaruhi tradisi keraton. Misalnya, terlihat motif kipas yang sudah ada sejak tahun 1930-an. “Kipas itu sejak zaman dulu paling banyak dipakai para putri raja,” ujar pemilik Sentra Batik Tulis, Taufan Febriyanto.

Taufan membenarkan, kegiatan membatik di desanya sudah turun-temurun sejak zaman nenek moyang. Ia sendiri merupakan generasi kedua yang mengelola Sentra Batik Tulis Melati.

Taufan sendiri tidak pernah bercita-cita menjadi pembatik. Ia sebelumnya sempat kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Pancamarga Probolinggo. Namun, panggilan hati memaksanya pulang dan meninggalkan bangku kuliah demi mempertahankan usaha warisan keluarga tersebut. Terlebih, kondisi ibunya saat itu sudah semakin tua.

Berkat kerja kerasnya mengkreasikan berbagai motif, Sentra Batik Tulis Al-Barokah pun berkembang pesat. Dalam mengembangkan motif dan desain, ia mengaku mencari ide dari majalah dan internet. Sembari tetap mempertahankan tradisi batik tulis, “Saya juga terus mengikuti perkembangan zaman,” ujarnya.

Makanya, ketika pelanggan sekarang cenderung menyukai warna cerah dalam berbatik, ia pun membubuhkan warna merah, kuning, hijau dalam batiknya. Padahal, dulu batik selalu memiliki warna khas yang gelap, seperti hitam atau cokelat. Selain itu, meskipun belum masif, ia juga mulai membuat desain ‘batik gaul’.

Source Sentra Kerajinan Batik Tulis Di Sumenep Sentra Kerajinan Batik Tulis Di Sumenep
Comments
Loading...