Sentra Kerajinan Batik Di Tuban

0 186

Sentra Kerajinan Batik Di Tuban

Persaingan pasar batik yang terjadi tidak hanya antara Batik Gedog Tuban dengan Batik Pekalongan dan Solo. Di tingkat lokal-pun, batik yang telah ditetapkan sebagai produk unggulan Industri Kecil Menengah (IKM) Kabupaten Tuban mendapat pesaing yang lumayan berat. Batik Sumurgung atau lebih dikenal dengan Batik Bongkol karena sentra kerajinan batik ada di wilayah Dusun Bongkol, Desa Sumurgung, Kecamatan Tuban Kota, perlahan namun pasti menggusur dominasi Batik Gedog Kerek.

Darsono merupakan salah satu dari pengusaha dan perajin Batik Bongkol mengatakan bahwa jumlah pesanan Batik Bongkol terus meningkat setahun terakhir. Dalam sebulan saja, kata Darsono, 7.500 lembar batik produksinya mampu terserap pasar. Saat ini memang baru empat pengusaha batik yang memproduksi Batik Bongkol. Itu pun baru Darsono yang total memproduksi Batik Bongkol, sedang tiga pengusaha lainnya masih sesekali memproduksi batik Gedog. Namun melihat trend Batik Bongkol yang terus naik itu, Darsono optimis dua-tiga tahun ke depan para pembatik di tempat itu akan kembali beralih ke Batik Bongkol dan meninggalkan Batik Gedog sama sekali.

Konsumen batik pelahan akan berbondong-bondong berpindah ke Batik Bongkol lantaran dari beberapa aspek batik ini lebih mampu diterima pasar ketimbang Batik Gedok Kerek. Batik Bongkol hanya dibandrol dengan harga Rp 25-30 ribu/lembar, sementara Batik Gedog Kerek masih berkisar di harga Rp 30-150 ribu/lembarnya. Keunggulan lainnya, Batik Bongkol ini tidak membutuhkan kain khusus. Semua jenis kain pabrikan bisa menjadi bahan Batik Bongkol. Ini jelas memungkinkan Batik Bongkol diproduksi dalam jumlah lebih besar mengingat kemudahan bahan bakunya, sehingga permintaan pasar berapa-pun akan mampu terlayani. Kemampuan ini tidak dimiliki Batik Gedog Kerek lantaran bahan yang dipakai adalah kain tenun gedog yang tidak bisa diproduksi massal dalam waktu singkat.

Untuk pasar lokal sendiri memang belum seberapa besar share yang didapat. Konsumen lokal bahkan masih lebih mengenal Batik Gedog ketimbang Batik Bongkol. Tapi melihat antusiasme pasar non lokal yang demikian tinggi terhadap batik ini, Darsono yakin dalam waktu yang tidak lama Batik Bongkol akan mampu merajai pasaran lokal. Bukan saja Batik Gedog yang berpeluang tergeser, tetapi batik produk para perajin Solo dan Pekalongan yang selama ini masih menjadi penguasa pasar, juga bakal mampu didesaknya. Terlebih lagi, Motif Batik Bongkol ini lebih variatif ketimbang Batik Gedog Kerek yang terlihat monoton.

Tetapi potensi besar ini belum mendapat respon positif dari Pemerintah setempat. Pemkab Tuban sendiri masih terpaku pada Batik Gedog sebagai produk kerajinan unggulan Bumi Ronggolawe ini. Selama ini para perajin Batik Bongkol berusaha sendiri mengeksiskan batik warisan asli leluhur masyarakat setempat itu. sempat masuk ke wilayah batik Bongkol tersebut.

Desa Sumurgung, tempat Batik Bongkol itu diproduksi, memang telah ditetapkan masuk kawasan Kampung Batik. Tetapi selama ini batik yang diproduksi para perajin umumnya di kawasan ini tetap Batik Gedog, sementara Batik Bongkol terkesan tidak terurus. Perajin-perajinnya pun berbondong-bondong menjadi “pekerja” pengusaha Batik Gedog.

Source http://desabatiktuban.blogspot.co.id http://desabatiktuban.blogspot.co.id/2017/12/sentra-batik-tuban.html
Comments
Loading...