Sentra Kerajinan Batik Gemawang Di Semarang

0 398

Sentra Kerajinan Batik Gemawang Di Semarang

Desa Gemawang, Kecamatan Jambu Kabupaten Semarang dijadikan sentral kerajian batik tulis karena masyarakatnya memiliki keahlian membatik dan bahan bakunya ‘malam’ (bahan untuk membatik) tersedia di daerah ini. Kepala Desa Gemawang, Bambang Sugoro, Jumat, mengatakan, dengan dijadikan sentyral daerah batik, juga nantinya bisa dipasarkan di di pusat Kerajian Lopait Tuntang.

Selain itu, katanya, Desa Gemawang banyak nila, karena daerahnya banyak ditumbuhi tanaman tersebut, dan limbah dari PTP perkebunan kopi yang dimanfaatkan sebagai zat pewarna batik.

Kerajinan batik di Gemawang saat ini sedang dikembangkan corak/motif yang cukup beraneka ragam yakni corak rumah tawon, tala, binatang lebah, dan pecahan kopi, katanya.

Untuk itu, ia berharap, dengan pengembangan batik di Gemawang sebagai daerah sentra batik tersebut, hendaknya Pemkab Semarang bisa membantu dalam permodalan terhadap industri kerajinan kecil ini. Namun, katanya, saat ini Yayasan Losari dari Magelang cukup membantu untuk mendidik masyarakat Gemawang menjadi kelompok perajin batik tulis, dengan mendirikan pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) sejak tahun 2006.

PKBM di Gemawang mempunyai 111 anggota, mereka dididik untuk menjadi perajin batik yang handal, katanya.

Ia mengakui, produk batik di Gemawang sudah memasuki pasar di Yogyakarta, dan Semarang sesuai pesanan. Pada Agustus 2007 produk batik si Gemawang siap dipasarkan ke luar daerah dengan harga batik antara Rp25 ribu hingga Rp1 juta per potong.

Produksi batik Gemawang hingga saat ini baru mampu mencapai 40 lembar per bulan. “Kita melalui PKBM anggota perajin batik pasti akan meningkat, karena dampaknya ke masyarakat mampu meningkatkan perekonomian mereka,” katanya.

Rumiyati, salah satu perajin batik di Desa Gemawang, menjelaskan, dirinya mampu menghasilkan batik tulis empat lembar per bulan dengan upah Rp100 ribu.

“Saya baru belajar untuk mengembangkan bakat, sehingga belum begitu memikirkan upah. Nanti kalau sudah pintar pasti upahnya mahal,” ujar Rumiyati.

Comments
Loading...