Sentra Kerajinan Batik Tulis Wayang Di Sragen

0 271

Sentra Kerajinan Batik Tulis Wayang Di Sragen

Batik tulis adalah suatu hasil karya yang tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Diberbagai wilayah Indonesia banyak ditemui sentra pengrajin batik, Setiap daerah juga mempunyai keunikan dan kekhasan tersendiri, baik dalam ragam hias maupun tata warnanya. Salah satu daerah itu adalah Kampung Batik Pungsari dan Plupuh adalah sebuah desa di wilayah, kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen. Di Desa ini banyak pengrajin batik, yang rata-rata ibu-ibu rumah tangga salah satu perajinnya adalah Surani, merupakan Kampung batik yang sangat potensial.

Batik tulis yang di produksi oleh para pengrajin di desa ini jika dicermati di dalamnya mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pecinta batik. Nilai-nilai itu anara lain, kesakralan, keindahan/seni, ketekunan, ketelitian dan kesabaran, nilai ketekunan , ketelitian dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang cukup menyita waktu yang panjang dan lama untuk menghasilkan sebuah batik Tulis yang bagus dan menarik yan disukai oleh banyak orang. Dan nilai keindahan dan seni dapat dilihat dari motif yang bermacam-macam misalnya motif wayang yang sangat di gemari dan laku keras dipasaran.

Tahap-tahap pembuatan batik-tulis adalah sebagai berikut. Sebelum kain mori dibatik, biasanya dilemaskan. Caranya adalah dengan digemplong, yaitu kain mori digulung kemudian diletakkan di tempat yang datar dan dipukuli dengan alu yang terbuat dari kayu. Setelah kain menjadi lemas, maka tahap berikutnya adalah mola, yaitu membuat pola pada mori dengan menggunakan malam. Setelah pola terbentuk, tahap selanjutnya adalah nglowong, yakni menggambar di sebalik mori sesuai dengan pola. Kegiatan ini disebut nembusi.

Setelah itu, nembok yang prosesnya hampir sama dengan nglowong tetapi menggunakan malam yang lebih kuat. Maksudnya adalah unutk menahan rembesan zat warna biru atau coklat. Tahap selanjutnya adalah medel atau nyelup untuk memberi warna biru supaya hasilnya sesuai dengan yang diinginkan.

Proses medel dilakukan beberapa kali agar warna biru menjadi lebih pekat. Selanjutnya, ngerok yaitu menghilangkan lilin klowongan agar jika disoga bekasnya berwarna coklat. Alat yang digunakan untuk ngerok adalah cawuk yang terbuat dari potongan kaleng yang ditajamkan sisinya. Setelah dikerok, kemudian dilanjutkan dengan mbironi. Dalam proses ini bagian-bagian yang ingin tetap berwarna biru dan putih ditutup malam dengan menggunakan canting khusus agar ketika disoga tidak kemasukan warna coklat.

Setelah itu, dilanjutkan dengan nyoga, yakni memberi warna coklat dengan ramuan kulit kayu soga, tingi, tegeran dan lain-lain. Untuk memperoleh warna coklat yang matang atau tua, kain dicelup dalam bak berisi ramuan soga, kemudian ditiriskan. Proses nyoga dilakukan berkali-kali dan kadang memakan waktu sampai beberapa hari. Namun, apabila menggunakan zat pewarna kimia, proses nyoga cukup dilakukan sehari saja.

Proses selanjutnya yang merupakan tahap akhir adalah mbabar atau nglorot, yaitu membersihkan malam. Caranya, kain mori tersebut dimasukkan ke dalam air mendidih yang telah diberi air kanji supaya malam tidak menempel kembali. Setelah malam luntur, kain mori yang telah dibatik tersebut kemudian dicuci dan diangin-anginkan supaya kering. Sebagai catatan, dalam pembuatan satu potong batik biasanya tidak hanya ditangani oleh satu orang saja, melainkan beberapa orang yang tugasnya berbeda.

Untuk Pewarnaan Alami denga mengunakan Kulit Kayu MAHONI, Daun INDIGO, JOLAWE, Dan semua jenis daun bias digunakan untuk pewarnaan. Prosesnya memang cukup lama karena biasanya pencelupan pada warna alam dilakukan hingga 35 kalipencelupan, setelah itu harus ada penguncian warna dengan bahan-2 tertentu seperti Gula jawa dll.

Source http://umkmsragen.com http://umkmsragen.com/batik-tulis-wayang-dari-plupuh/
Comments
Loading...