Sentra Kerajinan Batu Onyx Di Tulungagung

0 374

Sentra Kerajinan Batu Onyx Di Tulungagung

Ini wujud potret kendala yang dialami sebagian pengrajin batu onyx dan marmer khususnya di wilayah Campur Darat, Tulungagung, Jawa Timur. Banyak yang tahu, hasil kreatifitas turun temurun masyarakat setempat ini tidak hanya disukai masyarakat lokal, melainkan juga konsumen mancanegara. Selain melayani pesanan pasar dalam negeri, permintaan konsumen luar negeri juga tidak kalah besarnya. Seorang pengrajin mengaku setiap tiga bulan sekali gerai marmer dan batu onyx miliknya melayani permintaan kiriman ke luar negeri, diantaranya ke Polandia, Prancis, Belgia, Belanda, dan Amerika.

“Ada buyer (konsumen) dari Amerika yang tiga bulan sekali minta kiriman ke saya, jumlahnya besar sampai tiga kontainer,” kata Ida, pemilik gerai ‘Mutiara Onyx’ Jalan Raya Popoh, Campur Darat, Tulungagung.

Setelah menerima uang muka 30 persen, wanita itu mengaku harus segera menyiapkan sejumlah barang pesanan. Setelah pembayaran diterima penuh, pengiriman kemudian dilakukan melalui kapal Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Namun, di tengah gemerlap kilauan batu alam berharga ratusan ribu hingga jutaan rupiah, serta mendatangkan keuntungan ini, ternyata tersimpan banyak sejumlah kendala masih menghadang.

Kendala pertama, soal ijin usaha yang belum dimiliki oleh sejumlah pengrajin. Kondisi itu menyebabkan permintaan pengiriman barang dalam jumpa besar khususnya ke luar negeri kerap memunculkan persoalan. Mulai dari kendala proses angkut, berbagai dokumen yang harus disiapkan, sampai berujung pada pengapalan barang yang terlambat ke alamat pemesan.

Diceritakan Ida, pengiriman barang pesanan ke sejumlah negara seringkali memakai jasa pihak kedua karena dirinya belum memiliki ijin usaha sendiri. “Kita percayakan semuanya, mulai pengangkutan, perjalanan serta perijinan di pelabuhan sampai pengapalan. Biayanya juga lumayan banyak membayar agen yang mengurusinya,” ujarnya.

Kondisi itu, kata Ida, tidak bisa dihindarinya. Keuntungan dari hasil pengiriman pesanan ke sejumlah negara itu, seringkali harus disisihkan untuk membayar agen yang mengurus pengiriman barang. Mulai dari pengurusan dokumen, pemuatan barang, pengapalan hingga pencairan uang pembelian. “Karena saya belum punya bendera sendiri, jadi semua urusan sampai pencairan dana dilakukan jasa agen,” lanjutnya.

Bahkan tidak jarang, keuntungan Ida seringkali kurang sehingga biaya tambahan pun harus dikeluarkan. Dia mencontohkan, saat barang berada di pelabuhan, dan belum ada pengapalan atau masih menunggu surat ijin, sejumlah biaya tambahan harus dikeluarkan. Biaya tambahan itu, lanjut Ida, harus dikeluarkan karena tidak mungkin barang yang sudah berada di pelabuhan dibawa kembali ke Tulungagung.

Kendala kedua, munculnya produk serupa yang harga jualnya lebih murah dengan mutu lebih bagus, yakni kerajinan marmer dan onyx buatan China. “Meskipun tak semua orang, tapi pasar mulai melirik produksi China. Harganya lebih murah dan mutunya banyak orang yang menyebut jauh lebih baik dari produksi lokal,” katanya.

Source https://www.viva.co.id https://www.viva.co.id/berita/bisnis/251955-kemilau-batu-onyx-terhalang-serbuan-china
Comments
Loading...