Sentra Kerajinan Biola Di Banyuwangi

0 327

Sentra Kerajinan Biola Di Banyuwangi

Suasana di bengkel biola milik Haidi Bing Slamet di Desa Adat Using Kemiren, Banyuwangi tampak sibuk. Dua orang pria tampak sibuk menggambar pola pada papan kayu dan di sisi lainnya tampak sibuk mengamplas.

“Ini kebetulan selain biola ada pesanan kontra bass juga. Akhir bulan harus selesai dan dikirim ke Malang,” terang Haidi. Pria yang akrab disapa Edi ini menyebut pesanan kontra bass sangat jarang diterimanya. Hal ini dikarenakan lebih banyak anak sekolah yang belajar memainkan musik biola. Apalagi biola menjadi salah satu instrumen dalam permainan musik di Banyuwangi. Pebisnis sekaligus musisi ini merintis home industry biola ini sejak 15 tahun yang lalu. Berawal dari biolanya yang rusak, Edi mencoba memperbaiki sendiri biolanya.

Bangkit setelah dikritik oleh orang mentor dan ayahnya, Edi mulai paham bila tekstur kayu mempengaruhi suara yang dihasilkan oleh biola. Tak hanya itu dia pun mempelajari karakteristik kayu yang cocok untuk membuat biola.

“Dari tekstur kayu, kepadatan kayu dan serat itu sangat mempengaruhi suara biola. Kayu yang dibuat biola maunya kayu yang tidak terlalu keras, serat tidak terlalu padat, seratnya harus selurus mungkin tidak ada mata cabangnya dan harus tua untuk badan biolanya. Kepala biola stemnya harus yang keras, padat, juga nggak mudah patah untuk stang dan pasaknya,” ucapnya. Dia juga sadar tingkat kadar air, ketebalan dan usia kayu mempengaruhi kualitas suara yang dihasilkan biola. Pemilihan bahan menjadi kunci utamanya dalam memproduksi biola.


“Tingkat kekeringan atau kadar airnya, ketebalannya per inchi itu mempengaruhi, jadi setiap biola nggak akan pernah bisa sama suaranya. Rata-rata kayu harus berumur 30 tahun ke atas. Kalau yang bagus dari Australia Marven, kalau lokal kayu tropis jati, mahoni, sentul. Kalau jenis kayunya nggak susah tapi nggak semua kayu bisa diolah harus cari serat lurus dan nggak ada mata cabangnya, karena itu mempengaruhi resonansi,” terangnya.

Edi mengakui saat ini sudah jarang ada pembuat biola yang ada di Banyuwangi. Kini dialah yang menjadi salah satu pembuat biola yang paling dikenal di kawasan Banyuwangi.

“Saya bangga bisa menjadi generasi penerus, selama ini di Banyuwangi sudah jarang pembuat Biola dan sekarang pemain biola di Banyuwangi ke saya semua. Kendalanya itu karena keterbatasan modal dan bahan, kalau sudah musim hujan salah satu penghambat pekerjaan,” tuturnya.

Dibantu dua temannya Sugiharto dan Sukri, per bulan bengkelnya bisa menyelesaikan maksimal delapan biola. Kini biola yang diproduksi olehnya kerap digunakan oleh seniman musik di Banyuwangi. Tak hanya itu rupanya biola miliknya sudah terbang hingga ke benua Eropa.

“Biola saya sudah ada beberapa yang tembus ke Eropa, Perancis, Jerman, Belanda dan sebagian besar ke daerah Indonesia seperti Pulau Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Biola saya jual seharga Rp 1,5-3 juta per item, itu sudah lengkap sama casenya dan bow,” kata pria bertubuh gempal ini. Dia menambahkan tahun 2013 pernah ada dua turis asal Perancis bernama Benjamin dan Fred belajar main biola dengan gaya Banyuwangi di rumahnya. Saat itu pula dia mendapat pesanan yang mengharuskannya bereksperimen dengan motif biola yang dibuatnya.

“Saya eksperimen dengan motif gedhek (anyaman bambu) itu dari potongan kayu yang disusun. Bikinnya rumit dan satu bulan baru jadi. Kalau biasanya cuma seminggu ini satu bulan,” kenangnya. Meski biola yang dibuatnya menyesuaikan nada musik di Banyuwangi. Edi meyakinkan biola buatannya tetap bisa dimainkan seperti nada umumnya.

Source https://news.detik.com https://news.detik.com/berita/3259960/berawal-dari-iseng-haidi-jadi-pembuat-biola-terkenal-di-banyuwangi
Comments
Loading...