Sentra Kerajinan Dandang Di Bandung

0 408

Sentra Kerajinan Dandang Di Bandung

Pekerjaan membuat seeng atau dandang untuk menanak nasi secara tradisional sudah mulai jarang ditemukan. Dari sekian yang jarang itu, Didi Nur Alam dan Tandang masih menjalani pekerjaan tersebut dengan telaten.

Kedua pria warga RT 04/RW 12 Kampung Pabeyan, Desa Cipaku, Kecamatan Paseh, Kabupaten Bandung, itu tak merasa putus asa melakoni usaha yang dirintis orang tua mereka sejak tahun 1940.

Di sebuah bengkel pembuatan dandang yang berukuran 2×3 meter, Didi dan Tandang setia berteman dengan palu dan aluminium yang memenuhi tempat mereka bekerja setiap harinya. Alat-alat yang mereka gunakan dalam membuat dandang pun masih tradisional. Mulai palu, tempat melelehkan aluminium, tempat mencetak dandang, dan peranti lainnya yang mendukung pembuatan dandang secara tradisional.

Ketika membuat dandang, sesekali keduanya mengubah posisi lantaran berbagi tugas. Didi yang berambut putih mencoba melelehkan setumpuk aluminium bekas di alat pembakaran yang masih menggunakan arang. Cara membakarnya pun tradisional, menggunakan tenaga angin yang dikeluarkan alat ciptaannya sendiri.

Tandang memukul palu ke arah dandang yang baru dibuatnya. Ia begitu tekun memukul dandang dengan sebuah palu khusus. Masyarakat yang tinggal tak jauh dari bengkel mereka pun tak menghiraukan suara dentuman yang dihadirkan dari tangan Tandang. Sebab, suara keras telah terbiasa mereka dengan sejak puluhan tahun lalu. Namun, perasaan lain menggelayut di hati Tandang dan Didi yang sudah sekian lama menjadi perajin dandang atau seeng, biasa warga desa menamai alat untuk menanak nasi itu.

Pasalnya, alat-alat modern telah membanjiri pasar, termasuk juga di wilayah mereka yang dulu menjadi habitat alat masak tradisional. Tentu saja, hal tersebut seolah menutup pintu usaha yang selama ini mereka geluti.

Tandang pun mengatakan, pelanggan setianya tidak hanya warga Kabupaten Bandung saja. Dandang buatannya selalu sampai Tasikmalaya dan Garut. Namun kini Garutlah yang menjadi produsen dandang secara massal.

Bahkan warga Kabupaten Bandung lebih memilih membeli dandang buatan Garut. Padahal dari segi kualitas, kata Tandang, dandang buatannya lebih baik lantaran bisa bertahan seumur hidup. Menurutnya, pembuatan dandang secara massal hanya bertahan sebentar. Walaupun usaha dandang telah sepi, Didi dan Tandang tetap bertahan karena benturan ekonomi sambil menerima order perbaikan alat dapur lain, semisal panci. Keduanya pun berharap, agar ada solusi dari pemerintah sehingga usaha kecil yang kini masih digeluti sekitar 15 perajin itu tetap bertahan.

Source http://www.tribunnews.com http://www.tribunnews.com/regional/2013/02/06/perajin-dandang-cipaku-bertahan-agar-tidak-punah?page=2
Comments
Loading...