Sentra Kerajinan Dandang Di Solo

0 505

Sentra Kerajinan Dandang Di Solo

Dandang memang sudah tak banyak lagi disebut dalam daftar alat dapur. Padahal dulunya, tak hanya alat pokok menanak nasi, dandang bahkan cukup berharga untuk digadaikan sebagai barang bernilai jual tinggi. Barang dari tembaga ini kini kalah pamor dengan penanak nasi lain yang mudah dan cepat, menyesuaikan kebutuhan manusia yang serba praktis.

Diamini oleh Waluyo, salah satu pengusaha dandang Semanggi, Solo, “dulu, dandang tembaga sangat laku tapi lalu ada dandang alumunium yang lebih ringan dan murah jadi dandang tembaga mulai tidak dipakai,” ungkapnya. Dulunya, adalah Joyo Kenceng, yang menjadi pengusaha dandang tembaga di daerah Semanggi. “Sekarang sudah meninggal dan tidak ada yang meneruskan, karena memang dandang tembaga juga sudah tidak laku,” bebernya.

Kemudian, muncullah para perajin dandang alumunium dan stainless menggantikan dandang tembaga. Tak hanya lebih ringan, dandang tak lagi cembung di dasarnya, bentuknya pun tak lebar di bagian bawah, di tengah ramping, dan lebar lagi di atas. Dengan bentuk silinder dan bawahnya yang datar, dandang alumunium disesuaikan dengan kompor minyak dan kompor gas yang mulai dipakai masyarakat. Dandang alumunium dan stainless juga sudah sepaket dengan angsang dan tutupnya sehingga lebih praktis dipakai.

Di Semanggi, suara palu beradu dengan alumunium terdengar setiap harinya. Bising dan memekakkan telinga sudah terjadi puluhan tahun di kampung ini. “Dulunya hampir semua rumah di kampung ini membuat dandang, Mbak. Tapi sekarang hanya tinggal segelintir,” ungkap Waluyo. Waluyo juga dulunya menjadi perajin dandang alumunium selama lebih dari 30 tahun sebelum akhirnya berhenti tiga tahun terakhir.

Diantaranya yang masih bertahan adalah FX. Hartoyo, yang sudah menggeluti usaha pembuatan dandang alumunium dan stainless sejak 1975. Ditemui di rumahnya yang sekaligus tempat usaha, Hartoyo tengah sibuk menggambar pola tutup dandang pada lembaran alumunium. “Usaha ini turun-temurun. Dari simbah, hingga saya yang meneruskan sekarang,” ungkapnya.

Dandang milik Hartoyo memang termasuk yang cukup besar di daerah ini. Ia memiliki delapan pegawai yang mampu menghasilkan sekitar 40 dandang per hari. “Untuk pemasarannya, tersebar ke seluruh Indonesia. Tapi paling banyak 80% untuk memenuhi pasaran Solo,” jelas Hartoyo yang juga menjabat Ketua Kelompok Usaha Dandang Kompor Semanggi (KUDKS) ini. Sisanya, 15% dikirim ke luar kota dan 5% untuk pasar luar Jawa, seperti Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.

Lebih masuk ke dalam kampung, di Rt 4 Rw 17 Kampung Semanggi, Suripto (55), juga masih bertahan dengan usaha pembuatan dandang. “Yang penting masih cukup untuk makan dan sekolah anak serta membayar pegawai, Mbak,” ditanya alasan ia masih bertahan.

Suripto memproduksi setidaknya 15 lembar alumunium yang bisa dibuat hingga 45 buah dandang setiap harinya. “Paling banyak memang dandang untuk katering, karena mereka memasak dalam jumlah banyak, biasanya masih menggunakan dandang,” jelas Suripto. Ia menghargai dandang stainless berkapasitas 30 liter sekitar Rp300.000, sedangkan yang alumunium berkapasitas sama sekitar Rp250.000. Ada juga dandang ukuran lain dengan harga sesuai besar kecilnya.

Selain itu, kepercayaan masyarakat terhadap produk dandang Semanggi juga menjadikan beberapa perajin ini bertahan. “Selain rapi, produk kita juga jaminan kuat. Sehingga pelanggan pun nitik (setia),” papar Suripto. Ia pun turun tangan sendiri dalam menggambar pola pada alumunium sebelum dipotong dan dibentuk oleh pekerjanya. “Ini untuk menjaga kualitas. Ukuran dandang harus tepat sehingga saya kerjakan sendiri untuk menggambar polanya,” aku bapak empat anak ini.

Hari berganti, tahun berlahlu. Dandang tembaga bermetamorfosis menjadi dandang alumunium dan stainless. Namun, tak pula terus bertahan, kini rice cooker menggempurnya dengan kepraktisan yang ditawarkan. Waluyo menanggapinya, “usaha dandang ini memang tak seramai dulu. Tapi, usaha ini sudah membiayai puluhan anak cucu di Kampung Semanggi bisa sekolah hingga kuliah,” ujarnya. Ia pun berbangga atas usaha yang telah puluhan tahun menjadi identitas kampungnya itu.

Source http://duranafisah.blog.uns.ac.id http://duranafisah.blog.uns.ac.id/2016/02/17/geliat-kampung-dandang-kian-muram/#more-143
Comments
Loading...