Sentra Kerajinan Dupa Di Demak

0 260

Sentra Kerajinan Dupa Di Demak

Perayaan tahun baru Imlek biasanya menjadi ladang rezeki tersendiri bagi pengrajin hio atau dupa. Namun akibat cuaca ekstrim dan masuknya hio impor membuat pengrajin hio mengalami penurunan keuntungan hingga 20 persen. Salah satunya Suparno, pengrajin asal Kabupaten Demak.

Tahun baru Imlek kali ini, Suparno hanya bisa mengirimkan 3.700 batang hio ke pecinan di Semarang padahal sebenarnya permintaan hio terus berdatangan. Jumlah tersebut sama dengan produksi hio Suparno pada hari biasa.

“Beberapa hari kemarin hujan terus, jadi tidak bisa menjemur bambu untuk hionya,” kata Suparno di rumahnya, desa Waru, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak.

Selain cuaca, lanjut Suparno, hio impor dari Taiwan, China dan Singapura seolah merampas sebagian ladang rejekinya. Ia mengakui hio impor terlihat lebih halus dan murah karena pengerjaannya menggunakan mesin.

“Tahun 2000 hingga 2004 saya sampai bisa memperkerjakan 12 karyawan. Tapi sejak hio dari Taiwam masuk tahun 2005, permintaan mulai menurun dan karyawannya tinggal lima,” tandasnya.

Harga hio lokal pun kalah dari hio impor. Suparno menjual hio lokal dengan harga Rp 8 ribu perkilo dengan isi 350 batang ukuran kecil, sementara hio impor dijual Rp 20 ribu dengan isi 800 batang ukuran sedang.

“Karena cuaca buruk dan hio dari Taiwan itu, peringatan Imlek tahun ini keuntungan menurun 20 persen dari Imlek tahun kemarin,” pungkasnya.

Meski demikian, dibantu lima karyawannya, Suparno terus memproduksi hio dan rutin mengirimkannya ke daerah pecinan di Wotgandul Semarang. Hio buatan Suparno terbuat dari campuran air, tepung jati dan tepung gemor yang diletakkan di batang lidi berbagai ukuran dari 45 cm hingga 90 cm.

Cuaca yang sudah mulai sering cerah menurut Suparno menjadi harapan baru dalam usaha kerajinan hio yang sudah ia tekuni sejak tahun 2000 itu. Perayaan Cap Gomeh pun menjadi targetnya setelah Imlek.

“Sudah mulai sering panas. Itu bagus soalnya setiap menjemur harus butuh tiga hari dan kalau kering dilumuri pewarna dan dijemur lagi selama satu hari, kemungkinan untuk Cap Gomeh nanti bisa produksi untuk stok,” katanya.

Sementara itu istri Suparno, Narti mengatakan usaha milik suaminya itu sempat mengalami masa pahit hingga nyaris tutup. Namun karena kegigihan Suparno, hingga saat ini, di belakang rumahnya yang sederhana, ribuan hio masih diproduksi walaupun harus bersaing dengan hio impor buatan mesin.

Source https://finance.detik.com https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/2165881/imlek-bukan-lagi-ladang-rezeki-bagi-pengrajin-hio-di-demak
Comments
Loading...