Sentra Kerajinan Gamelan Di Bantul

0 304

Sentra Kerajinan Gamelan Di Bantul

Usianya memang sudah termasuk sudah udzur. Namun untuk membuat gamelan pria yang satu ini ahlinya.  Muhammad Sayati, membuat gamelan tidak dengan perhitungan rumit ilmu pasti, tapi dengan perasaan. Begitulah cara menyelesaikan pekerjaan pada bagian yang tersulit membuat gamelan.

Yaitu saat masuk tahap Nglaras, membuat bunyi yang baik dan berkualitas. “Ilmu pastinya itu tidak ada, tapi pakai rasa,” kata Sayati,pengrajin Sanggar Larasmadyo, Padukuhan Mangiran, Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul.

Sudah lebih dari 8 tahun, dirinya menjalani profesinya sebagai pembuat gamelan. Bermula bisnis awalnya, sebagai penjual gamelan pada 2006 lalu setelah terjadinya bencana gempa besar di Bantul.

Ketika itu, beberapa orang kenalannya memintanya untuk mencari gamelan baru. Lama-lama permintaan semakin banyak dan produsen tak mampu untuk memenuhinya. “Dulu ambil gamelan di Klaten, tapi karena semakin banyak jadi tidak kebagian barang. Dari itu, kemudian belajar membuatnya sendiri,” tuturnya.

Tak hanya ia saja yang belajar, namun beberapa kerabatnya juga dimintanya untuk ikut. Untuk bisa segera memenuhi permintaan para pelanggannya. Dari proses belajarnya itu, mulai 2009 pun berhasil merintis tempat service gamelan. Hingga menjadi pengrajinnya.

“Dalam pembuatan gamelan, bagian yang tersulit itu saat Nglaras. Caranya ditutuki (dipukuli) hingga sampai membentuk suara yang merdu. Bisa sampai dua hari lebih,” ucapnya.

Untuk satu unit gamelan, misal Gong, Gendang, bisa diselesaikan dalam waktu 5-7 hari. Namun bila permintaannya satu set sekaligus, proses pembuatannya memakan waktu sekitar 2 bulan. “Tergantung permintaannya. Jadi satu bulan, pembuatannya tidak pasti berapa banyak jumlahnya,” katanya.

Mengenai harga, diakuinya produk gamelannya lebih mahal dibandingkan dengan hasil para pengrajin lainnya. Misal satu Gong saja, bisa mencapai Rp 7,5 juta. “Di sini memang lebih mahal. Karena ada harga, ada kualitas. Kami berani jamin kualitasnya,” ucapnya.

Meski mahal, namun gamelannya sudah sampai ke berbagai daerah. Bahkan pernah ada pemesan dari Korea. Salah seorang konsumennya, Sugito, 50, dalang Wayang Gedog dari Sanggar Putratama, sekaligus pengasuh kesenian Jathilan di daerah Sanden, Multigading, Sanden, Bantul, mengatakan harga gamelan di pengrajin Sajati memang sedikit mahal. “Tapi kualitasnya memang bagus,” katanya.

Menurutnya, pengrajin-pengrajim gamelan seperti ini di Jogja masih sangat sedikit hingga sulit ditemukan. Seringkali, dirinya harus ke Solo atau Klaten jika ingin memesan atau membeli baru.

“Pengrajin seperti ini kan masih jarang. Kita harap pemerintah bisa lebih memperhatikan, agar orang yang bergerak dalam bidang seni tidak perlu jauh-jauh keluar daerah untuk mencari,” pungkasnya.

Source https://www.jawapos.com https://www.jawapos.com/read/2017/10/23/164172/pengrajin-gamelan-ini-jualannya-sampai-ke-korea
Comments
Loading...