Sentra Kerajinan Gamelan Di Banyuwangi

0 274

Sentra Kerajinan Gamelan Di Banyuwangi

Secara keturunan, tidak ada darah seniman mengalir dalam darah Busairi Arifin. Dia menganggap, bakat itu sebagai karunia Tuhan yang patut disyukuri. “Saya terus mendalaminya sembari bergabung dengan Sanggar Kelapa kala itu,” katanya.

Memasuki usia senja, Busairi tidak pernah berhenti berkarya di bidang seni. Dia berusaha untuk melestarikan warisan budaya tradisional. Meski itu diwujudkannya dengan membuat ukiran dan peralatan musik gamelan khas Suku Using.

Di rumahnya di Lingkungan Sritanjung, Kelurahan Temenggungan, Banyuwangi, bapak tiga anak ini menekuni pekerjaan membuat alat musik tradisional. Mulai gamelan, gong, hingga saron atau selentem mampu dibuatnya dengan tidak meninggalkan nilai unsur budaya Bumi Blambangan.

Tengok saja tahapan proses pembuatan mulai awal hingga dalam bentuk jadi dikerjakannya seorang diri. Untuk membuat sebuah selentem misalnya, Busairi harus membuat dulu desain bentuknya. Kayu sebagai penyangga harus dibuat sesuai dengan bentuk yang diinginkan.

Tahapan mulai menghaluskan, memahat, memberikan ukiran hingga pengecatan setidaknya membutuhkan waktu sekitar dua bulan. Setelah bagian tersebut selesai, tahapan berikutnya adalah pencetakan plat besi. Bagian ini pengerjaannya mendapat perhatian ekstra. Dikarenakan sangat mempengaruhi suara yang dihasilkan. “Biasanya bagian ini saya pesan di pandai besi,” ujarnya.

Bila semua komponen sudah lengkap, tiba giliran Busairi untuk menyusun semua bahan tersebut menjadi satu. Terbentuknya sebuah selentem belum menjamin alat tersebut bisa langsung digunakan. Bagian tersulit yaitu menyetem. Proses ini dilakukan agar bunyi yang dihasilkan bisa sesuai not yang ada.

Tahap menyetem dianggap tahapan yang paling rumit. Ini didasari bahwa alat musik Banyuwangi bila dilakukan standardisasi mulai ukuran, bentuk hingga suara boleh jadi tidak ada. Untuk mensiasatinya, Busairi menggunakan metode pentatonik sebagai rumus untuk menyetem selentemnya. “Kalau mau jujur, not dari alat musik Banyuwangi susah. Apalagi dimasuki unsur alat musik lain seperti gitar,” katanya.

Namun perkembangan alat musik modern rupanya sedikit banyak menolong perkembangan musik Banyuwangi. Metode ini seolah menjadi harapan baru agar suara yang dihasilkan bisa sering dengan alat musik masa kini seperti gitar misalnya. Keberadaan tuner sejauh ini dipandang mampu memberikan harapan itu. Tidak heran bila kolaborasi alat musik Using dan modern pun melintas dibenak Busairi.

Di era 1980-an, dia sudah melakukannya dengan grup musik yang diberinama Gafilas. Kehadirannya bahkan sempat membuatnya dilirik produser rekaman atas karya yang dianggap lain saat itu.

Bak dayung bersambut, kemahiran dan kematangan Busairi di dunia seni rupanya berbuah manis. Dia pun mendapat order istimewa dari panitia grand opening Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta. Dia diminta membuat sebuah selentem. Dia juga diminta untuk manggung dalam acara tersebut.

Kepercayaan itu pun dijawab dengan memenuhi pesanan tersebut. Sebuah selentem terbuat dari bahan perunggu menjadi karya seni yang tidak terlupakan baginya. Alat musik itu kini berada di ibukota. “Saya sempat manggung juga saat awal pembukaan TMII dulu hingga beberapa bulan,” kenangnya.

Lalu berapa nilai order pembuatan seletem itu ? Busairi enggan menjawab. Hasil karyanya tidak untuk dijual. Kalaupun ada yang berminat, dia awalnya hanya ingin meminjamkan. Tapi bila tertarik, tawaran Rp 3 hingga Rp 4,5 juta merupakan nilai apresiasi hasil seni yang dihasilkannya.

Source https://brangwetan.wordpress.com https://brangwetan.wordpress.com/2008/06/26/busairi-arifin-seniman-pembuat-alat-musik-tradisional-banyuwangi/
Comments
Loading...