Sentra Kerajinan Gasing Di Lombok Timur

0 226

Sentra Kerajinan Gasing Di Lombok Timur

Permainan gasing yang merupakan salah satu permainan tradisional nusantara ini, walaupun sejarah penyebarannya belum diketahui secara pasti, namun berbagai masyarakat yang ada di wilayah tanah air kita masih tetap memepertahan salah satu jenis budaya permainan rakyat ini. Pulau Lombok yang merupakan salah satu pulau kecil yang ada di wilayah propensi Nusa Tenggara barat (NTB), yang mana masyarakatnya masih tetap bertahan dalam melestarikan permainan rakyat ini, bahkan menjadi suatu komunitas tersendiri dalam menjalin rasa kebersamaan sebagai masyarakat sasak atau bangsa Indonesia. Wujud kebersamaan ini terwujud ketika mereka melaksanakan ajang pertandingan atau main bersama (sparing partner) secara beregu. Merekapun membuat aturan yang harus disepakati bersama, baik dalam aturan waktu bermain, jumlah personil dalam tiap regu, etika diwaktu bermain, seperti tidak boleh merokok, maupun diwajibkan untuk mengenakan busana adat sasak ketika memasuki arena pertandingan, dan lain-lain.

Dalam mempertahankan budaya permainan gasing ini, M. Yusuf adalah salah seorang warga masyarakat desa kelayu-selong, Lombok timur yang turut berpartisipasi dalam mendukung kelestarian budaya permaianan rakyat ini dengan mengasah bakat keterampilannya dalam memproduksi alat permainan tradisional ini yang disebut gasing. M. Yusuf yang kini berusia 47 tahun, memilih  aktifitas kesehariannya sebagai pembuat kayu gasing karena sulitnya mencari pekerjaan lain. Kerajinan membuat kayu gasing yang kini menjadi sumber penghidupannya, ditekuni semenjak ia mengakhiri pekerjaannya sebagai pelayan di sebuah toko roti yang ada di Ryadh Arab Saudi selama 3 tahun yaitu dari tahun 1997-tahun 2000.

M.Yusuf yang sempat menyelesaikan sekolahnya di sebuah madrasah aliyah mengakui kalau kariernya sebagai pengrajin kayu gasing merupakan warisan orang tua. Hanya teknik pembuatan gasing yang sering dikukan oleh orang tuanya dengan mempergunakan parang, dan iapun mengembangkannya dengan memperguakan mesin bubut, yang dirintis sejak tahun 2000.

Bagi seorang M. Yusuf, bekerja sebagai pengrajin kayu gasing cukup membuahkan hasil, bahkan dengan pengasilannya mampu membiayai kehidupan keluarganya. Dua anaknya yang kini  telah menempuh pendidikan, yakni  anak pertamanya sedang duduk di kelas satu SMA dan anak yang keduanya masih duduk di kelas empat SD.

Dalam seharinya, M.Yusuf rata-rata mampu menyelesaikan 2 biji kayu gasing dengan berbagai ukuran. Gasing dengan ukuran 18 centi meter diberikan harga 50.000 rupiah berbiji, gasing dengan ukuran 20 centi berharga 70.000.

Perlu dipahami bahwa dalam pembuatan gasing secara lengkap atau secara keseluruhan itu membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Hal ini terjadi karena selain membuat kayu gasing (membentuk model kayu gasing) dari bahan kayu asam, juga mempergunakan lapisan berupa plat besi yang sudah diproses dengan berbentuk pipih melingkar  yang disebut sempleng (lengker). Lapisan ini berfungsi untuk memperkuat ketahanan kayu gasing tersebut apabila dipermainkan. Selain itu pada pembuatan paku (leher gasing) melalui proses penyepukan secara awal agar leher gasing tidak muda pecah.

Untuk pembuatan  sempleng (lengker) gasing diawali dengan membentuk besi ulir (besi beton), kemudian dibubut hingga menjadi plat, begitupun juga pada pakunya (leher gasing) dengan melalui proses penyepukan (disepuk) agar kuat dan tidak muda pecah.

Source http://budaya.kampung-media.com http://budaya.kampung-media.com/2015/02/11/titian-hidup-dari-permainan-gasing-8459
Comments
Loading...