Sentra Kerajinan Kampung Batik Di Semarang

0 252

Sentra Kerajinan Kampung Batik Di Semarang

Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang dinilai masih kurang perhatiannya terhadap Kampung Batik di Bubakan, Semarang Timur. Kondisi sentra penghasil batik terbesar di Kota Atlas ini minim fasilitas dan perlu dibantu promosi serta pemasarannya.

Salah satu pengusaha batik, Oktavia mengatakan, kegiatan membatik di kampung ini dari dulu hingga sekarang sebenarnya masih berlangsung. Ada sembilan orang pengusaha gerai batik di kawasan ini yang masih bertahan. Namun, bisnis tidak dalam kondisi baik, penjualan mereka kadang naik kadang turun. “Saat ini sebenarnya banyak pengunjung wisatawan lokal maupun asing singgah berbelanja batik khas Semarangan. Tapi kami masih kesulitan dalam hal pengembangannya,” katanya, kemarin.

Salah satu kendala yang dialami para pengusaha adalah minimnya produksi. Sebab di kawasan ini tidak ada tempat pengolahan limbah khusus sehingga mereka tidak bisa memproses batiknya di sini. Kegiatan di Kampung Batik hanya menggambar pola, sedangkan proses selanjutnya dilakukan di rumah. “Saya di sini cuma bisa nggambar nanti baru dilanjutkan produksi di rumah,” kata pemilik Toko Batik Temawon ini.


Pemerintah juga dinilai kurang membantu mempromosikan lokasi Kampung Batik sehingga lokasi ini tidak mudah dikenali. Pemerintah bahkan belum membangun plang penanda Kampung Batik, apalagi membuat tugu atau penanda besar lain agar bisa mudah dikenali pengunjung. Pengusaha berharap ada penanda yang dibangun dengan ukuran besar dan didesain batik. “Padahal potensi Kampung Batik sebagai kawasan wisata itu sangat menjanjikan, bisa menjadi salah satu objek wisata andalan di Kota Semarang,” katanya.

Wisatawan yang ingin memiliki batik dari kawasan ini bisa membeli dengan beragam harga. Untuk batik Semarangan cap tulis kisaran harganya mulai dari Rp75.000 hingga Rp175.000. Sedangkan untuk selembar batik tulis dijual dengan harga Rp300.000 sampai Rp500.000 dengan ukuran 2×1 meter.

Kampung Batik juga dinilai membutuhkan lahan parkir yang layak sehingga pengunjung dalam jumlah banyak dengan bus berbadan besar tidak kesulitan mencari lahan parkir. Selain itu, pengrajin batik juga perlu mendapat perhatian, utamanya pembuangan limbah pewarna batik yang berbau tajam, permodalan, dan pemasaran hasil produksi.

Source http://koran-sindo.com http://koran-sindo.com/page/news/2016-02-29/5/49/Kampung_Batik_Butuh_Perhatian_Serius
Comments
Loading...