Sentra Kerajinan Kasur Di Palembang

0 445

Sentra Kerajinan Kasur Di Palembang

Selain tenun, produk khas Palembang lain yang banyak dibuat di Kabupaten Cirebon adalah kasur lantai. Sejak bertahun-tahun, kerajinan kasur Palembang mulai tumbuh subur di Desa Cikeduk, Kecamatan Depok. Setiap bulan, para perajin di desa itu bisa meraup omzet hingga ratusan juta rupiah dengan memasarkan ribuan kasur tersebut ke berbagai daerah di dalam dan luar Pulau Jawa.

Tidak hanya menjanjikan keuntungan yang besar bagi para pelakunya, kerajinan kasur Palembang di Desa Cikeduk juga mampu memberdayakan kaum perempuan. Hampir di setiap rumah, ibu rumah tangga dan remaja putri banyak terlihat ikut terlibat dalam produksi kasur Palembang. Seperti yang terlihat di rumah Jaya

Di antara tumpukan kapuk dan kain di rumah itu, beberapa perempuan tampak sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing. Di satu sudut, seorang perempuan sibuk memasukan benang ke ujung jarum untuk menjahit kain di hadapannya. Sementara di sudut lain beberapa rekannya memasukan kapuk ke dalam kain yang telah di jahit itu. Untuk melindungi saluran pernafasan, para perempuan yang rata-rata berhijab itu mengenakan masker dari kain seadanya.

Para perempuan itu masing-masing bisa menyelesaikan lima sampai tujuh kasur dalam satu hari. Dari setiap kasur yang dihasilkan, mereka mendapatkan upah Rp 7.000-8.500. Artinya dalam sehari mereka bisa mendapatkan penghasilan RP 59.500 atau sedikitnya Rp 1,6 juta per bulan. Penghasilan yang terbilang besar mengingat upah miminum Kabupaten Cirebon 2014 saja hanya sekitar Rp 1,2 juta.

“Alhamdulillah, saya bisa bekerja di sini dengan upah yang berada di atas UMK. Bekerja di perusahaan besar saja belum tentu bisa dapat penghasilan sebesar itu. belum lagi masuknya susah, karena saya hanya sekolah sampai tingkat SMP,” tutur Hartini, salah seorang pekerja.

Sementara itu orang kepercayaan Sanudi, Jaya mengatakan, upah yang diberikan kepada para pekerja berbeda satu sama lain, tergantung bobot pekerjaan mereka. Setiap pekerja memiliki tugas masing-masing dari mulai menjahit, memasukan kapuk dan mengepak kasur yang sudah jadi. Namun ia tidak menampik jika rata-rata upah pekerja memang berada di atas UMK, terlebih jika mereka memilih untuk tetap bekerja di akhir pekan atau hari libur lain.

Menurut Jaya, kasur yang dihasilkan para pelaku industri rumahan, ditampung oleh seorang pengusaha bernama sanudi. Ia kemudian mengirimkan kasur-kasur tersebut ke seluruh Wilayah III Cirebon serta berbagai daerah lain seperti Jakarta, Bandung, Tasikmalaya, dan beberapa daerah di Jawa Tengah. Setiap bulan, jumlah kasur yang dikirim bisa mencapai ribuan.

Jaya menambahkan, kasur yang dihasilkan para pelaku industri rumahan dihargai berbeda oleh Sanudi. Bergantung pada bentuk, ukuran, bahan dan motif yang digunakan, setiap kasur biasanya dibeli dari perajin mulai rai Rp 100.000 sampai Rp 300.000. “Kalau ada yang ingin membeli langsung di sini juga bisa, namun harga eceran dan per kodi biasanya berbeda. Harga satu kodi bisa menghemat Rp 20.000-30.000 per kasur,” katanya.

Sementara itu untuk bahan, Jaya mengatakan, para perajin biasa mendapatkan kapuk dari berbagai daerah seperti Bandung, Surabaya dan Jakarta. Namun untuk kain, mereka tak perlu jauh-jauh, karena Pasar Sandang Tegalgubug di Kecamatan Arjawinangun bisa memasok berbagai jenis dan ukuran yang diperlukan para perajin.

Source http://www.pikiran-rakyat.com http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2014/09/14/296822/kerajinan-kasur-palembang-tumbuh-di-desa-cikeduk
Comments
Loading...