Sentra Kerajinan Kasur Kapuk Di Bandung

0 446

Sentra Kerajinan Kasur Kapuk Di Bandung

Pada era modern seperti sekarang, tidak banyak lagi masyarakat yang menggunakan kasur kapuk. Maklum saja, kini sudah banyak produk kasur dari bahan baku yang lebih nyaman seperti busa, pegas hingga bahan lateks bertebaran. Ini membuat para produsen kasur kapuk merana. Salah satunya di sentra produksi kasur kapuk di Cigondewah, Bandung, Jawa Barat.

Wahyu Sulaiman, warga di Jalan Cigondewah Rahayu, Kecamatan Margaasih, Bandung, sibuk memasukkan kapuk ke dalam kain bermotif garis-garis yang sebelumnya telah dijahit sesuai ukuran hingga penuh. Dia sedang menyelesaikan pembuatan kasur kapuk di salah satu bagian rumahnya yang dijadikan tempat produksi. Berkarung-karung kapuk tertumpuk di sudut ruangan. Kapuk yang siap dimasukkan ke dalam kain diletakkan di lantai membuat ruangan tampak berantakan.

Tidak jarang senyum tersungging dari wajahnya. Namun, dibalik senyum itu tersimpan kegetiran lantaran usaha produksi kasur kapuk yang dia jalankan sudah megap-megap. Tergerus oleh kasur busa, kasur pegas, dan kasur modern lainnya yang relatif lebih nyaman digunakan untuk tidur, peminat kasur kapuk miliknya menurun tajam.

Padahal, daerah di pinggiran selatan Kota Bandung yang menjadi tempat tinggalnya ini sejak tahun 1970 terkenal sebagai sentra pembuatan kasur kapuk. Tempat ini tidak jauh dari sentra tekstil Cigondewah. Wahyu bercerita, dulu para tetangganya juga membuat kasur kapuk. Mereka berjualan keliling dengan sepeda ontel atau menitipkan ke sentra tekstil di Cigondewah untuk dijual.

Ada lebih dari 20 rumah yang menjadi tempat produksi kasur kapuk, guling dan bantal kapuk. Tapi itu dulu. Saat ini, kondisi sentra ini jauh berbeda. Kini hanya tinggal dua orang yang masih menjalankan profesi sebagai produsen kasur kapuk yakni Wahyu dan tetangganya, Ardiansyah.

Wahyu masih bertahan hingga kini karena keyakinannya masih ada orang yang suka tidur dengan kasur dan bantal kapuk. Namun, lantaran tidak lagi bisa mendatangkan keuntungan besar, pekerjaan ini hanya menjadi pekerjaan sampingan saja. “Saat ini, saya memiliki pekerjaan lain yakni menyewakan jasa tenda untuk pernikahan,” katanya.

Dia bercerita, usaha yang dirintis sang ayah pada tahun 1980 itu mengalami masa kejayaan hingga tahun 1990. Ia masih ingat betul memiliki 10 karyawan yang membantu memproduksi dan berjualan. Bahan baku kapuk dipasok dari Tasikmalaya.  “Dulu dalam seminggu bisa membuat lima kasur dan belasan bantal dan guling. Sekarang, sebulan hanya membuat 10 kasur,” kata Wahyu.

Harga kasur kapuk ukuran panjang 1,2 m dihargai Rp 300.000 per unit. Untuk kasur yang lebih tipis Rp 190.000 per unit dan yang agak besar Rp 500.000 per unit. Dia mengaku, omzetnya tidak sampai Rp 10 juta sebulan.

Ardiansyah, produsen lainnya yang masih bertahan, memproduksi kasur kapuk hanya dengan dibantu istrinya. Dari pagi sampai jam 2 siang, ia bekerja membuat kaus kaki. Setelah itu ia mulai membuat kasur kapuk. Dalam sebulan Ardi memproduksi tidak lebih dari 10 unit kasur. Dia bilang, masih ada masyarakat menengah ke bawah yang masih membutuhkan kasur kapuk.

Source http://peluangusaha.kontan.co.id http://peluangusaha.kontan.co.id/news/masa-suram-sentra-produksi-kasur-kapuk-bandung-1
Comments
Loading...