Sentra Kerajinan Kasur Lantai Di Purbalingga

????????????????????????????????????
0 463

Sentra Kerajinan Kasur Lantai Di Purbalingga

Perajin di sentra produksi kasur lantai Desa Banjarkerta, Kecamatan Karanganyar, Purbalingga kesulitan mendapatkan bahan baku kain. Pasalnya, mereka sangat bergantung pada bahan baku yang diimpor dari Tiongkok.

Salah satu perajin Edy Purnomo, mengaku akibat sulitnya bahan baku kain tersebut, para perajin menjerit. Pasalnya, saat ini menjadi titik terendah produksi kasur lantai.

“Saat ini permintaan justru terus meningkat, tetapi bahan baku kain itu yang justru berkurang. Informasi yang kami dapat, impor kain dari Tiongkok mengalami kendala prosedur,” Ujar Edy.

Menurut Edy, pasokan bahan baku kain kasur tidak bisa dipastikan ketersediaannya. Apabila ada kiriman 1.000 rol, dalam dua hari bahan ini habis untuk memproduksi rol kain kasur seharga Rp 470 ribu.

Dia mengaku membeli bahan baku kain dari importir. Selanjutnya kain tersebut dibeli oleh beberapa perajin yang banyak di sekitar desa.

“Kalau untuk bahan baku pengisi kasur, semuanya didatangkan dari lokal. Seperti kapuk randu dari Kabupaten Kendal, bahan baku silikon dari Solo, dan higet atau sisa limbah kain perca dan kemudian diolah lagi menjadi bagian yang kecil-kecil menyerupai kapas. Higet didatangkan dari Jakarta,” kata Edy yang sudah memulai usaha kasur lantai sejak tahun 2005 ini.

Dia menuturkan, akibat dari berkurangnya bahan baku ini pihaknya mulai mengurangi jumlah karyawan. Jika bahan baku tersedia banyak, dan permintaan melimpah, jumlah karyawan yang dipekerjakan bisa mencapai 50 orang. Namun, saat ini hanya mempekerjakan antara 5 – 10 orang.

Apabila kondisi ini terus menerus terjadi, Edy mengaku khawatir usaha kasur lantai bakal gulung tikar.

“Setiap hari kami harus mengeluarkan ongkos untuk karyawan yang membuat kasur. Itu tergantung pada bahan baku yang dipakai. Rata-rata ongkos pembuatan per kasur Rp 4.000 hingga Rp 5.000 per buah. Satu orang pekerja rata-rata mampu memproduksi 7-10 buah per hari,” katanya.

Adapun harga sebuah kasur produksi Desa Banjarkerta tergantung dari bahan baku yang dipakai. Untuk ukuran 140 cm x 180 cm dengan bahan baku silikon dihargai Rp 150 ribu. Kasur dengan ukuran yang sama berbahan baku higet seharga Rp 55 ribu, sedang kasur lantai berbahan kapuk randu dihargai Rp 130 ribu.

Terkait pemasran, Edy mengaku tidak pernah mengalami kesulitan. Para pedagang biasanya datang sendiri untuk mengambilnya antara 10 – 20 kasur. Kasur produksi Banjarkerta ini secara rutin dipasok ke sejumlah toko di Banjar Patoman, Provinsi Jawa Barat hingga Kebumen di Jawa Tengah.

“Pedagang lain yang mengambil ke kami, rata-rata memasarkannya hingga ke kota-kota besar di Jateng, Jabar dan Jakarta,” ujar Edy.

Source https://jateng.merdeka.com https://jateng.merdeka.com/industri/bahan-baku-sulit-perajin-kasur-menjerit-171121d.html
Comments
Loading...