Sentra Kerajinan Kemoceng Di Kediri

0 344

Sentra Kerajinan Kemoceng Di Kediri

Industri kerajinan bulu ayam di Desa Blabak, Kecamatan Pesantren, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, mengalami penurunan produktivitas. Pasalnya, pasokan bahan baku berupa bulu ayam bukan ras menurun tajam akibat menyusutnya populasi ayam di Blitar dalam lima bulan terakhir.

Akibat penurunan jumlah pasokan bulu ayam yang signifikan, harganya pun mengalami kenaikan. Di sisi lain, perajin tidak berani menaikkan harga  hasil kerajinan bulu ayam karena khawatir tidak mampu diserap oleh pasar.

“Dulu bulu ayam berlimpah dari tempat pemotongan hewan. Kami tinggal mengambilnya atau diantarkan langsung ke perajin melalui pengepul. Sekarang, kami harus antre nunggu berhari-hari untuk mendapatkannya, ” ujar Subari salah satu perajin bulu ayam di Desa Blabak.

Ia mengatakan, dulu bahan baku selalu berlimpah sehingga harganya pun relatif murah. Karena sebenarnya, bulu ayam merupakan barang sisa yang dibuang. Pada industri peternakan ayam, komoditi utama yang dijual adalah telur ayam dan daging ayam.

Akan tetapi sejak menjamurnya industri kerajinan bulu ayam, barang yang dulunya hanya dianggap sampah ini, menjadi sebuah komoditi yang diperebutkan. Apalagi, jumlah industri kerajinan bulu sampai ratusan unit usaha. Hampir di setiap rumah penduduk mengerjakan kerajinan tersebut.

Satu buah sulak yang terbuat dari bulu ayam bukan ras hanya dihargai Rp 2.000, sedangkan untuk sulak yang berbahan baku dari bulu ayam kampung dihargai sampai Rp 50.000 per biji.

Satu kilogram bulu ayam bukan ras harganya Rp 9.500. Sebelumnya, satu kilogram bulu ayam biasanya hanya dihargai Rp 5.000 Rp 7.500. Setiap satu kilogram bulu, dapat dijadikan 15 buah sulak. Peralatan lainnya yang diperlukan hanya tali dari benang woll dan satu batang rotan sebagai tangkai sulak.

Source http://nasional.kompas.com http://nasional.kompas.com/read/2008/05/04/18435599/perajin.bulu.ayam.kesulitan.bahan.baku
Comments
Loading...