Sentra Kerajinan Keset Di Banten

0 230

Sentra Kerajinan Keset Di Banten

Keset banyak digunakan sebagai alas kaki di rumah-rumah penduduk, mulai dari kalangan bawah menengah hingga kalangan elit. Seperti keluarga pengrajin keset di Kampung Buaran Desa, Jatimulya Kecamatan Sepatan Timur.

Ening, adalah satu dari sekian banyak pengrajin keset yang ada di wilayah itu. Dia sekeluarga menggantungkan hidupnya dari usaha tersebut. Sayangnya, keuntungan yang didapat hanya cukup untuk makan keluarganya, sedangkan anak-anaknya terpaksa harus putus sekolah. Sudah lima tahun Ening menjalani profesi sebagai pengrajin keset sejak dirinya berhenti menjadi kuli bangunan karena sakit yang dideritanya. Meski usianya sudah separuh abad lebih, Ening tetap memiliki etos kerja dan berkarya demi keluarganya.

“Ada puluhan pengrajin keset di Kampung ini, kebanyakan mereka hanya menggantungkan hidupnya dari keuntungan penjualan keset. Ya, meski tidak banyak rata-rata keuntungan yang diperoleh hanya Rp15 ribu lebih. Kalau banyak yang diproduksi ya keuntungan bisa bertambah juga,” ungkap Ening.

Setiap hari rata-rata keluarga Ening mampu menghasilkan satu kodi atau 20 keset. “Perkodi dijual dengan harga Rp36 ribu, setiap hari ada pengepul yang datang untuk mengambil keset. Keuntungannya hanya cukup untuk makan sehari-hari,” akunya.

Sementara untuk produksi keset sendiri, Ening memanfaatkan bahan dari sisa limbah garmen. Ending mengetahui seluk beluk membuat keset dengan belajar otodidak dari pengrajin lainnya. “Untuk bahan dibeli perkilo, dengan harga Rp2000/kg. Biasanya saya mampu membeli 20 kilo, kalau modal lagi banyak bisa membeli banyak juga bahannya. Yah paling banyak pernah 50 kilo,” jelasnya.

Source http://satelitnews.co.id http://satelitnews.co.id/2012/07/17/kisah-keluarga-ening-pengrajin-keset-di-desa-jatimulya-sepatan-timur/
Comments
Loading...