Sentra Kerajinan Kompor Minyak Di Solo

0 394

Sentra Kerajinan Kompor Minyak Di Solo

Semanggi, sebuah kampung yang terletak di Kecamatan Pasar Kliwon, bagian selatan Kota Solo ini tampak sepi dari aktivitas warganya. Sejak Pemerintah Kota Solo menetapkan kebijakan konversi minyak tanah ke gas di Kota Bengawan, otomatis roda ekonomi warga Semanggi pun terancam macet. Maklum, sebagai sentra peralatan dapur, sebagian besar warga Kampung Semanggi bermatapencaharian sebagai pengrajin dandang maupun kompor. Di Kampung Semanggi ada lebih kurang lima belas orang yang menekuni usaha kerajinan peralatan dapur, namun sejak ada program konversi minyak tanah ke gas tak sedikit para pengrajin yang gulung tikar. Hingga kini pengrajin yang tetap bertahan tinggal enam orang, salah seorang diantaranya adalah Agus Wahyudi.

Pria asli Solo yang akrab dipanggil Yudi ini mengaku telah menekuni usaha pembuatan kompor minyak tanah sejak 35 tahun silam secara turun temurun. Meskipun minyak tanah tergolong langka di Kota Solo, namun tetap saja ada pesanan kompor minyak tanah walaupun jumlahnya tak seberapa. “Ya, yang datang pesan paling satu-dua orang. Itu pun tidak ajeg (tetap) setiap harinya.” ujar pria 55 tahun ini. Selain melayani pemesanan kompor yang berkurang dari hari ke hari, bapak tiga putra ini terus berusaha bertahan hidup dengan membuat alat pembakar sate. Namun dilihat dari segi keuntungan, tentu saja keuntungan dari penjualan alat pembakar sate sangat kecil dibanding dari hasil penjualan kompor minyak tanah.

Sebelum ada kebijakan konversi di Kota Solo, Yudi bersama kedelapan karyawannya mampu menghasilkan rata-rata enam kompor minyak tanah per harinya. Kualitas kompor buatan Yudi pun tak perlu diragukan lagi, untuk pembuatan rangka kompor dipilih material besi, sebab lebih tebal dan lebih kuat bahkan ada jaminan anti meledak.

Yudi membuat kompor dengan berbagai ukuran, mulai yang bersumbu 16 cm, 22 cm, 24 cm, 36 cm, dan yang paling besar bersumbu 40 cm. Ditilik dari segi kekuatan, kompor yang bersumbu 24 cm mampu menahan beban hingga 70 kilogram. Harga kompor juga bisa dibilang relatif terjangkau, untuk satu buah kompor bersumbu 16 cm, pembeli yang membeli dalam jumlah besar dibandrol dengan harga Rp 100.000, sedangkan pembeli eceran harus mengeluarkan kocek sedikit lebih mahal, yaitu sebesar Rp 115.000 untuk satu buah kompor dengan ukuran yang sama. Harga tersebut sebanding dengan keawetan kompor yang rata-rata mampu bertahan hingga 15 tahun. Tak heran jika pembeli kompor buatan Yudi datang dari berbagai daerah bahkan luar Pulau Jawa seperti Jambi. Koperasi ISI Solo, Koperasi PT. Kusuma Hadi dan PT. Batik Keris masuk jajaran pelanggan tetap kompor buatan Yudi.

Namun, berkaca dengan kondisi saat ini, entah sampai kapan Yudi mampu bertahan. Tentulah mudah dipahami, sejak pengurangan jatah minyak tanah untuk masyarakat praktis pemesanan kompor juga menyusut. Saat ini, Yudi hanya mampu mempekerjakan satu orang karyawan saja, yang mana karyawan tersebut adalah adiknya sendiri, bahkan beberapa waktu lalu usahanya sempat mandeg dua minggu akibat tidak adanya pesanan kompor. Belum lagi dari keenam pengrajin kompor minyak yang masih tersisa di kampung Semanggi ini rata-rata memproduksi kompor minyak dengan kualitas standar, untuk satu buahnya dijual dengan harga sekitar Rp 20.000, jauh di bawah harga kompor buatan Yudi. Jika dilihat dari biaya produksi pembuatan kompor, tentu kompor buatan Yudi yang memakan biaya yang paling mahal dan cukup memberatkan jika tetap harus membuat kompor namun tidak jelas apakah akan ada yang membeli kompor minyak buatannya.

Entah sampai kapan Yudi dan pengrajin lainnya mampu bertahan hidup dari pesanan kompor minyak tanah dan mungkin “gelar” kampung Semanggi sebagai sentra industri peralatan dapur, seperti dandang kompor dan kompor minyak tanah, pun harus berakhir disini.

Source https://javalistic.wordpress.com https://javalistic.wordpress.com/2009/01/12/terus-bertahan-hidup-dari-pesanan-kompor-minyak/
Comments
Loading...