Sentra Kerajinan Langseng di Bandung

0 400

Sentra Kerajinan Langseng di Bandung

Keberadaan perajin langseng (dandang) di Desa Cileunyi Kulon, Kecamatan Cileunyi, begitu melegenda. Konon, perajin di kawasan ini satu-satunya di Kabupaten Bandung. Bahkan, untuk lingkup Jawa Barat, perajin langseng di Cileunyi Kulon hanya memiliki saingan di Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya.

Masa keemasan Desa Cileunyi Kulon, Kecamatan Cileunyi sebagai sentra perajin langseng di Kabupaten Bandung pada tahun ’60-an hingga ’90-an. Jumlah perajin di kawasan itu mencapai sekitar 50 perajin. Kini, perajin langseng yang tersisa tinggal 10 saja.

Menurut salah satu perajin yang sudah malang-melintang di dunia per-langseng-an, Mamat Rahmat, dikenalnya kawasan Cileunyi Kulon sebagai sentra perajin langseng bukan bualan. Produksi langseng perajin di kawasan itu, bukan hanya dipasarkan di kawasan Bandung Raya, namun sudah merambah ke berbagai daerah di Nusantara. Mulai Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, hingga Papua jadi tujuan pemasaran produk ini.

“Saat masa keemasan pemasaran langseng, pabrik langseng yang saya kelola bisa mengirimkan lima truk langseng dalam sehari. Itu untuk memenuhi permintaan dari berbagai daerah di Indonesia. Namun, untuk saat ini, memasarkan paling banyak empat truk langseng dalam sebulan saja sudah untung,” kata Mamat.

Perajin yang memiliki pabrik langseng di Kampung Cikalang Kulon, Desa Cileunyi Wetan itu, menyebutkan, merosotnya pemasaran langseng dipicu oleh semakin meroketnya harga bahan baku produk itu. Untuk saat ini, kata dia, harga tembaga yang jadi bahan  baku langseng lebih dari Rp. 100 ribu per kilogram.

Di sisi lain, permintaan pasar pun terus menyusut. Berbarengan dengan semakin mewabahnya penggunaan alat masak yang serbamenggunakan listrik, seperti magic com, minat masyarakat untuk menggunakan langseng semakin berkurang.

Kata Mamat, untuk menyiasati kondisi itu, para perajin berupaya mencari bahan baku alternatif di luar tembaga. Maka, munculah bahan baku langseng yang disebut prim, secon, dan DG. Harga ketiga bahan baku itu lebih murah dibandingkan tembaga, kisaran puluhan ribu rupiah per kilogram.

“Perajin berupaya sekuat tenaga untuk bertahan di tengah keterbatasan. Bahkan, karena ingin tetap eksis, akhirnya yang banyak diproduksi yaitu bahan baku jenis secon dan DG. Di tengah permintaan pasar yang semakin merosot, semua jenis langseng mulai ukuran 25 kilogram hingga 1 kilogram tetap kami produksi,” ujarnya.

Source http://www.sabilulungan.net http://www.sabilulungan.net/berita/5401/desa-cileunyi-kulon-sentra-perajin-langseng-di-kabupaten-bandung
Comments
Loading...