Sentra Kerajinan Mainan Tradisional Di Bantul

0 277

Sentra Kerajinan Mainan Tradisional Di Bantul

Permainan tradisional anak, salah satu sarana belajar yang penting, kini semakin tergusur oleh mainan modern. Keresahan akan pudarnya mainan tradisional membuat warga Desa Pandes, Panggungharjo, Sewon, Bantul berupaya melestarikan dolanan anak dengan mengemasnya dalam kegiatan wisata. Kini, nostalgia dan kerinduan akan dolanan anak seperti kitiran, manukan, dan othok-othok dapat sedikit terobati melalui Kampung Dolanan.

Kampung Dolanan ini muncul dari inisiatif sejumlah warga di Dusun Pandes setelah tragedi Gempa 2006. Salah satu tujuannya adalah membantu pemulihan trauma anak-anak akibat gempa. Warga pun menghidupkan kembali Desa Pandes yang di masa lalu pernah menjadi pusat pembuatan dolanan anak.

Saat pengunjung memasuki kawasan Kampung Dolanan, patung-patung jerami yang mengenakan pakaian tradisional telah siap menyambut. Begitu juga dengan patung yang terbuat dari anyaman bambu. Memasuki kawasan ini lebih jauh, pengunjung atau wisatawan akan diajak untuk melihat bahkan ikut membuat dolanan anak sembari bernostalgia. Para sesepuh masih sangat lihai dalam membuat pola mainan tradisional. Kampung Dolanan juga memiliki kawasan outbond dan track yang menyenangkan, kolam lele, sawah luas, dan tempat bermain gamelan lengkap dengan guru seni.

Bagi generasi sebelum 2000-an, othok-othok menjadi mainan ‘wajib’ baik laki-laki maupun perempuan. Mainan ini berbahan kaleng susu bekas, bambu, dan hiasan kertas dengan gagang kayu. Othok-othok selalu menjadi idola anak-anak karena menimbulkan bunyi yang berisik namun berkesan. Tidak hanya mainan ini yang banyak ditemui di Kampung Dolanan, namun wayang kertas, angkrek, kitiran, manukan, dan permainan tradisional seperti geprekan, gamelan, tari-tarian juga akan membuat pengunjung semakin akrab dengan dolanan tradisional anak. Kisaran harga mainan tradisional yang umumnya berbahan kertas bekas dan bambu ini adalah Rp 2.500,00 hingga Rp 25.000,00.

“Tiap permainan memiliki multiple intelligent (kecerdasan majemuk) yang terdiri atas kecerdasan irama, kinestetis dan rasa, atau dalam bahasa Jawa disebut wiromo, wirogo, dan wiroso. Untuk itu Kampung Dolanan ada,” ujar Wahyudi, salah satu penggagas komunitas Pojok Budaya di Kampung Dolanan.

“Kegiatan untuk kunjungan wisata biasanya sudah kami jadikan satu paket. Kalau tidak ada kunjungan, ya sepi seperti kampung biasa. Tapi kalau aktivitas membuat dolanannya, simbah-simbah tetap produktif setiap hari,” ujar Sekar, salah satu pengelola Pojok Budaya. Dalam satu bulan, Kampung Dolanan dapat menerima kunjungan besar sebanyak dua kali, baik dari sekolah maupun media. Namun sejak dipromosikan di banyak media nasional dan internasional, Kampung Dolanan menjadi lebih sering menerima kunjungan mendadak meski jumlahnya tidak pasti.

Kampung Dolanan ternyata memiliki asal usul yang memang tidak jauh dari dolanananak. Di masa lalu, desa ini menjadi sentral pembuatan dan produksi mainan tradisional di DIY dan sekitarnya. Sebagian besar warganya berprofesi sebagai pengrajin mainan yang ulung dan terkenal. Namun, kemajuan zaman rupanya mampu menggusur mainan tradisional dari rumahnya sendiri. Saat ini, hanya segelintir yang mampu mewarisi keahlian membuat mainan tradisional.

“Kalau omzet atau keuntungan ya hampir tidak ada. Bambu saja sekarang tidak bisa nebang sendiri, harus beli. Tapi produksi dolanan ini kan nggak hanya soal keuntungan. Yang terpenting simbah punya kegiatan yang menghibur di masa tuanya,” ujar Sri, anakMbah Atemo yang membantu beliau berkomunikasi karena usia simbah yang sudah 80 tahun.

Produksi dolanan di Desa Pandes tidak semata-mata menjadi mata pencaharian atau penghasilan tambahan bagi para sesepuh. Meski secara fisik dolanan adalah sebuah benda mati, tiap dolanan yang diciptakan oleh para simbah memiliki sejuta makna yang ingin disampaikan, terutama nilai-nilai luhur.

Suratni, salah satu warga lansia yang ada di Desa Pandes, menuturkan bahwa semakin punahnya mainan tradisional saat ini bukan salah generasi muda sepenuhnya. “Memang kami, kaum tua, banyak yang sengaja tidak mengajarkan keahlian membuat mainan tradisional ke anak-anak. Saat itu membuat dolanan tidak menghasilkan apa-apa. Kita hidup juga butuh makan,” ujar Suratni.

Source http://wargajogja.net http://wargajogja.net/seni-dan-budaya/kampung-dolanan-pandes-surga-mainan-tradisional.html
Comments
Loading...