Sentra Kerajinan Parut Tertua Di Kulonprogo

0 359

Sentra Kerajinan Parut Tertua Di Kulonprogo

Melihat proses pembuatan Parut tradisional tertua yang sudah turun temurun dilakukan penduduk dusun Dukuh, Karangsari, Kulonprogo. Setiap hari di Rt 18 yang jadi basis pengrajin Parut, mulai pukul 2 malam sudah terdengar suara pukulan palu bersahut sahutan dari beberapa rumah, yang konon menurut penduduk setempat Budiono, tradisi membuat Parut sudah dilakukan warga mulai ratusan tahun silam sejak nenek moyang mereka.

Parut Dusun Dukuh di buat dari bahan kayu Mlinjo dan kawat baja setebal 0,4 mili. Proses pembuatannya tergolong membutuhkan kesabaran tinggi, karena setelah kayu yang sudah dibentuk dengan ukuran sekitar 15 X 45cm di serut di haluskan, tahap berikutnya adalah menanamkan kawat baja satu persatu dengan cara dijapit tang pipih kemudian dipukul dengan palu.

Proses awal ini bisa berlangsung berjam jam, karena kawat baja tersebut ditanam satu persatu dengan pola jalan miring simetris yang berjarak sekitar 35cm. setelah tahap awal ini selesai, proses berikutnya adalah finishing yang mereka sebut dengan istilah Nduduli, ia itu, meratakan ketinggian kawat baja dengan cara memukul satu persatu menggunakan alat semacam betel yang ujungnya berlubang setinggi 2 mili.

Budiono menjelaskan, “Karena kayu Mlinjo selain bahannya tersedia melipah di Dusunnya, jenis kayu ini juga teruji mampu mencengkeram kawat baja, jadi produk Parutnya tidak mudah ompong dan tahan hingga satu tahun lebih,” katanya.

Sedang Tips supaya Parut awet tidak mudah berkarat, Budiono mengatakan, sebaiknya setelah digunakan, parut disimpan dalam keadaan berdiri, karena dengan cara tersebut, semua cairan minyak kelapa yang tersisa tidak mengendap yang mengakibatkan Parut berkarat.

Walau diakui keberadaan Parut tradisional mulai tergusur dengan parut mesin, namun menurutnya, permintaan Parut buatan Rt-nya masih banyak di cari pembeli dari luar kota, seperti Lampung, Rembang Jawa Tengah dan daerah lainnya. Dia mengatakan tidak takut Parut tradisional bakal punah, karena sudah terbukti hasil parutan kelapa dengan cara tradisional, santannya tetap kental, sedang kelapa yang diparut dengan mesin itu sari pati santannya sebagian sudah terperas oleh mesin, jadi yang tersisa tinggal setengah ampas.

Source http://www.tipswisatamurah.com http://www.tipswisatamurah.com/2015/08/desa-pembuat-parut-tertua-dusun-dukuh.html
Comments
Loading...