Sentra Kerajinan Perak Di Yogyakarta

0 217

Sentra Kerajinan Perak Di Yogyakarta

Industri kerajinan perak di Indonesia mampu berdaya saing di pasar internasional karena memiliki berbagai keunggulan seperti desain dan kualitas produknya. Seiring perkembangan teknologi, sektor ini masih mengandalkan buatan tangan para pengrajinnya dalam proses produksi. Surono adalah salah satu perajin Perak.

“Ini salah satu bukti talent kita yang tetap kompetitif. Di industrinya, sektor ini punya nilai tambah tinggi. Mulai dari bahan baku sampai barang jadi, nilai tambahnya bisa mencapai di atas 50 persen,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto kepada wartawan ketika mengunjungi sentra pengrajin perak di Kotegede, Yogyakarta.

Menperin menjelaskan, Kotagede merupakan salah satu klaster atau kelompok industri kerajinan perak yang sudah lama dikenal dan masih lestari. Untuk itu, Kementerian Perindustrian mendorong sektor yang mayoritas skala industri kecil dan menengah (IKM) ini ke arah klaster karena para pelaku usahanya akan mudah mendapatkan bahan baku dan memasarkan produknya.

“Bahkan, kompetensi para pengrajinnya akan semakin meningkat karena mereka berkumpul. Ini bisa terus menjaga keberlangsungan produktivitasnya. Konsepnya adalah one village one product, jadi perak menjadi kekuatan Kotagede. Di tempat lain juga ada, seperti yang berbasis produk kulit,” paparnya.

Airlangga menyampaikan, industri kerajinan sebagai salah satu sektor yang tengah diprioritaskan pengembangannya. Alasannya, karena mampu menghasilkan nilai tambah tinggi, berdaya saing global, berorientasi ekspor, menyerap banyak tenaga kerja, serta didukung dengan ketersediaan sumber bahan baku yang cukup.

Pada kesempatan yang sama, di tengah mengamati proses kerja para pengrajin perak di HS Silver, Menperin ditawari pengrajin untuk mencuci cincin nikahnya dengan menggunakan sabun tradisional dari buah lerak. Fungsi buah lerak ini bisa membersihkan kembali perhiasan perak yang sudah kusam, dan juga biasa dipakai untuk mencuci batik.

Kekhawatiran Airlangga jika cincinnya tersebut akan rusak jika setelah digosok tidak terbukti. Ia justru dibuat heran karena cincin pernikahannya berubah lebih bersih seperti saat masih baru dan merasa puas dengan polesan pengrajin perak tersebut. “Wah, beneran jadi berkilau, kayak baru,” ungkapnya.

Airlangga juga berkomentar ketika melihat pengrajin perak menyusun benang filigree ke dalam perhiasan. “Seperti ini yang tidak bisa dilakukan secara digital. Kalau dibuat digital, perempuan juga pasti tidak mau pakai,” ucapnya.

Didampingi Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti serta Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) I Gusti Putu Suryawirawan, Menperin serius melihat proses patri yang menggunakan serbuk perak, pembuatan benang perak, pengelasan perak, hingga proses perebusan supaya warna perak kembali cerah.

Source http://www.siaranindonesia.com http://www.siaranindonesia.com/baca/20180331/daya-saing-industri-kerajinan-perak-masih-andalkan-buatan-tangan.html
Comments
Loading...