Sentra Kerajinan Raket Di Klayatan

0 200

Sentra Kerajinan Raket Di Klayatan

Bulutangkis adalah olahraga terpopuler kedua setelah sepakbola di negeri ini. Jadi bisnis terkaitnya pun sangat banyak, baik yang berskala besar maupun yang kecil di tingkat rumahan. Di Jl Klayatan III/46, Dadang Prayoga bersama 13 karyawannya, mengembangkan bisnis raket rumahannya. Sehari, setidaknya ia memproduksi 500 raket, bahkan bisa 1.000 kalau sedang ramai. “Keuntungan per unitnya sih tipis. Tapi kalau produksinya banyak, hasilnya pun besar,” tutur Dadang kepada Surya, pekan lalu. Ia mencontohkan, dari selusin raket kasaran (kualitas terendah) ia untung Rp 2.500 – Rp 3.000. Tapi raket kelas inilah yang paling gampang terserap pasar, khususnya di luar Jawa.

“Jadi, dengan produksi banyak, keuntungannya pun besar,” kata Dadang yang mengawali bisnis ini sejak 1995. Bisnis ini tak pernah sepi, karena penggemarnya berjibun dan bahan bakunya pun mudah didapat. Pesanan pun memuncak ketika ada peristiwa bulu tangkis – khususnya internasional – seperti All England, Thomas dan Uber Cup. “Jadi sebaiknya event bulutangkis disiarkan live saja, seperti MotoGP yang semusim penuh,” katanya berseloroh. Dadang mengakui, bisnis raket dengan merek Aero XL, Aeronex, Atlanta, Alfano, Betamax diwarisinya dari sang ayah yang merintis sejak 35 tahun silam.

Hanya, di tangan Dadang lah bisnis ini berkembang dengan merek berbeda. Ia tidak meneruskan merek Butterfly rintisan ayahnya. Kini Dadang mengembangkan raket berkualitas medium, dengan biaya produksi 75 persen dari harga jual yang berkisar Rp 100.000 per biji. Merek utamanya adalah Aero XL dan Aeronex. Raket-raket itu banyak dikirimnya ke Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan Bali. Dari Klayatan setidaknya, tiap bulan dikirim 30.000 raket ke pulau-pulau itu. Yang menarik lagi, bisnis raket ternyata melibatkan tenaga kerja yang sangat banyak.

Industri raket biasanya hanya membuat rangka raket, mulai head, batang dan pegangan, sementara untuk pemasangan mata atau cincin senar plus pemasangan senar akan dikerjakan orang lain. “Kami (pabrik) hanya buat raketnya, sedangkan penyenaran kebanyakan serahkan ke warga sekitar. Mulai ibu-ibu, bapak-bapak hingga remaja bisa melakukannya di rumah masing-masing, sehingga semuanya mendapatkan penghasilan,” kata Dadang. Semua itu menjadikan bisnis raket di Klayatan sangat menguntungkan, karena masing-masing sudah ada produsennya.

Sedangkan zaman dulu atau sekitar 30 tahun silam, hanya pemodal kuat yang bisa mendirikan usaha pembuatan raket, karena setidaknya dibutuhkan alat lengkap mulai bor untuk melubangi aluminium, mesin roller untuk melengkungkan aluminium menjadi head raket, serta bahan lain seperti handel atau pegangan kayu, senar, cincin senar, dan letter T yang tidak bisa dibeli secara eceran, alias harus membeli dalam jumlah banyak agar murah dan ekonomis. Soal produksi raket, kata Dadang, sangat mudah. Bagaimana tidak, hampir semua bagian seperi head (kepala raket), ‘T’ penghubung, batang, hingga handel semua bisa diproduksi oleh perajin di Klayatan yang jumlahnya mencapai 50-an orang. Jadi, di Klayatan, para perajin seperti Dadang hanya merakit bagian yang diproduksi orang lain. Di Klayatan, semua bagian mendapat keuntungan.

Source http://surabaya.tribunnews.com http://surabaya.tribunnews.com/2010/06/28/bisnis-raket-klayatan-yang-kasaran-paling-laku
Comments
Loading...