Sentra Kerajinan Tembikar Di Blitar

0 438

Sentra Kerajinan Tembikar Di Blitar

Sentra industri tembikar di Dusun Precet Desa Plumpungrejo Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar terlihat sepi. Sentra industri yang membuat berbagai jenis kerajinan mulai blengker, pot, gentong, lemper, sampai guci saat ini lesu sebagai dampak cuaca yang cenderung tidak menentu. Hanya segelintir pengrajin saja yang masih tetap eksis untuk tetapmembuatatau sekedar memoles hasil kerajinan.

Permintaan produk tembikardi pasaran mulai meningkat namun justru produksinya yang menurun drastis. Jika sebelumnya waktumusim kemarau bisa memproduksi 40 hingga 60 buah jenistembikar, di musim penghujan, sejumlah pengrajin hanya mampu menghasilkan sekitar 20 atau 30 buah saja. “Saat ini susah kalaumusim hujan. Padahal permintaan naik namun lantaran cuaca tak menentu jumlah produksi menurun,”jelas Jauharotin, salah satu pengarajin tembikar.

Jauharotin mengatakan penurunan produksitembikarini di barengi dengan turunnya omzet pendapatan hampir 50 persen. Biasanya, per hari bisa mendapatkan uang Rp 50 ribu. Namun kini Rp 20 ribu saja menurutnya sudah untung.

Penurunan produksi tembikar ini sangat berdampak terhadap penghidupan pengusaha maupun pekerja. Pasalnya pekerjaan tembikar ini mampu menghidupi keluarga mereka dan satu-satunya jadi penopang hidup. Selain itu, hasiltembikarasli daerah dari Kabupaten Blitar ini banyak diminati pembeli dari daerah sendiri juga di minati dari daerah luar, bahkan sudah merambah hingga ke luar negeri. ”Biasanya dari hasil produksi disetor ke pengepul setiap dua minggu sekali dan oleh pengepul dijual keluar negeri,”paparnya.

Dia menambahkan, musim kemarau ini sangat membantu dalam proses pengeringan. Karena saat proses pengeringan sinar matahari sangat diperlukan. Peningkatan produksi tembikar tentu juga dibarengi dengan naiknya omzet pendapatan sekitar 50 persen. “Biasanya pekerja dalam sehari hanya bisa mendapatkan uang Rp 50 ribu, namun kini mampu mendapat hingga Rp 100 ribu,”ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan Wartiyah,jika memasuki musim kemarau permintaan barang-barang yang berbahan tanah liat tersebut meningkat. “Pembeli dari dalam Kota Blitar maupun luar Kota Blitar biasanya langsung datang kesini untuk memesan jenis yang mereka inginkan, namun rata-rata yang paling banyak dipesan cobek, kendil, dan gorengan kopi.”terang Wartiyah.

Disebutkan,untuk harga kendil Rp 3 ribu per buah, harga gorengan kopi Rp 3 ribu per buah, dan harga cobek Rp 1 ribu per buahnya. Sementara untuk kreweng dijual dengan harga Rp 5 ribu, tungku masak dijual Rp 7 ribu, tempat makan kelinci dijual Rp 3 ribu, dan pot bunga kecil dijual Rp 3 ribu. “Harga bervariatif sesuai dengan kerumitan cara membuatnya,”jelasnya.

Keterampikan membuat kerajinan tembikar memang sudah turun-temurun dilakukan di Desa Plumpungrejo. Bahkan tetap eksis hingga saat ini dan terbukti mampu menghidupi warga desa setempat.

Source http://koranmemo.com http://koranmemo.com/pengrajin-tembikar-di-plumpunngrejo-dibuat-galau/
Comments
Loading...