Sentra Kerajinan Tusuk Sate di Cirebon

0 404

Sentra Kerajinan Tusuk Sate di Cirebon

Saat menjelang hari Raya Kurban, Kondisi ini membawa berkah bagi kakek-nenek pembuat tusuk sate dari “tanah wali”. Dari Blok Kerandon, Desa Karang Sari, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, ribuan tusuk sate diproduksi. Puluhan warga di Blok Kerandon ini, berprofesi sebagai pembuat tusuk sate. Sejak pagi, hingga sore, aktivitas pembuatan tusuk sate menghiasi halaman rumah mereka. Usia pembuatnya pun sangat bervariatif, dari anak-anak kecil, remaja, dewasa, bahkan hingga lanjut usia. Mereka berkumpul bersama-sama untuk menghasilkan ribuan tusuk sate yang akan disuplai ke berbagai daerah. Seperti yang dilakukan Misnen, pria berusia 85 tahun yang masih rajin membuat tusuk sate.

Di halaman rumahnya, Misnen membilah ratusan bambu yang sudah dipotong berukuran 20 centimeter. bambu hasil bilahan itu ia potong lagi hingga menjadi bahan dasar untuk tusuk sate. Sekilas, Misnen terlihat tak peduli dengan tubuhnya yang semakin renta, penglihatannya yang menurun, dan pendengaran yang sedikit kabur. Pagi, sore , bahkan hingga malam, Misnen lakukan aktivitas itu di pelataran rumahnya. Ternyata Misnen tak sendiri, ia dibantu istri, anak-anak, dan tetangganya untuk melancipkan ujung potongan bahan dasar tusuk sate itu.

Membuat tusuk sate, menurut Misnen, sebagai pelestarian sekaligus untuk menyambung hidup. Bagi Mustira (85 tahun), istri Misnen, selain sebagai mata pencarian juga sebagai upaya melestarikan kebiasaan yang telah lama berlangsung. Dalam satu hari, satu orang dapat menghasilkan sekitar sepuluh ikat, yang tiap ikat berisi 200 hingga 250 tusuk sate. “Kami menjual satu ikat tusuk sate sekitar Rp 2.500, ya kalau laku semua sehari bisa dapet uang Rp 25.000,” jelas Mustira. Dalam waktu satu bulan, satu orang dapat mengantongi sekitar Rp. 750.000.

Namun, sejak satu bulan menjelang Idhul Adha, mereka berkerja ekstra untuk memenuhi permintaan yang meningkat. Selain jumlah produksi yang bertambah, para pembuat tusuk sate pun menaikan harga jual, untuk membayar tenaga yang dikeluarkan. Satu ikat, yang dijual menjelang Idul Adha, seharga sekitar Rp 5.000, dan dalam sehari mereka dapat mengantongi Rp 50.000, apabila berhasil menjual 10 ikat tusuk sate. Jadi dalam satu bulan ini, mereka dapat mengantongi masing-masing sekitar Rp 1.000.000 – Rp 1.400.000. “Kalau datang Idul Adha, kami sangat bersyukur, karena dapat mengantongi untung lebih, dan dapat membeli bahan stok produksi.

Tapi kalau tidak, membuat tusuk sate untungnya sedikit, karena sangat menyita waktu, dan tenaga,” keluh Muri (35 tahun), tetangga Misnen dan Mustira. Muri yang bertugas menjual tusuk sate, menyebutkan, ratusan iket tusuk sate disuplai ke kawasan kota dan kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, bahkan luar daerah lainnya. Namun, kalau Idul Adha, rata-rata pembeli berdatangan untuk membeli langsung di pengrajin.

Source https://regional.kompas.com https://regional.kompas.com/read/2014/10/04/14364461/Idul.Adha.Kakek.Nenek.Ini.Kebanjiran.Order.Tusuk.Sate
Comments
Loading...