Souvenir Kerajinan Cobek Di Desa Junrejo

0 130

Souvenir Kerajinan Cobek Di Desa Junrejo

Perkakas rumah tangga ini tergolong sederhana. Perkakas rumah tangga yang biasanya terbuat dari batu dan kayu ini ternyata masih memiliki daya tarik tersendiri yang tak lekang oleh waktu. Walaupun sudah ada mesin blender, toh keberadaan cobek seakan tak bisa tergantikan. Bahkan keberadaannya dijadikan nilai plus oleh para penjaja nasi lalapan.

Umumnya para penikmat sambal lalapan mengaku lebih nikmat ketika menyantap makanan dengan sambal yang diambil langsung dari cobek. Larena itu wajar kerajinan cobek masih bertahan hingga saat ini, bahkan menjadi salah satu souvenir wisata di banyak daerah, termasuk di sekitar Taman Rekreasi Sengkaling Kabupaten Malang dan sejumlah penyedia souvenir wisata  di Jalan Ir Soekarno Desa Mojorejo Kota Batu.

Kerajinan cobek berkembang di Desa Junrejo Kecamatan Junrejo Kota Batu. Salah satu perajin yang cukup sukses mengembangkan kerajinan cobek adalah Yusmiati.


Yusmiati menceritakan, sebagai perajin kelas kampung, ia hanya dimodali dengan dua mesin molen dan tiga mesin bubut. Dengan modal itu, warga Desa Junrejo ini mampu pergi keluar negeri dengan cuma-cuma alias gratis.

Yusmiati yang juga menjadi ketua Kelompok Cluster (kelompok ibu-ibu Home Industri) ini sering diundang mewakili Indonesia untuk prestasinya itu. Ia pernah diundang di Beijing dan Amerika. “Ya, berkat cobek ini saya ke luar negeri gratis, karena diundang dan mewakili Kabupaten Malang (Kota Batu saat itu masih menjadi bagian kecamatan dari Kabupaten Malang,red) dalam kegiatan di berbagai negara,” ucapnya seraya tertawa renyah belum lama ini.

Bu Yus, begitu ia akrab disapa, mengaku bisa menghasilkan 5.000 cobek per hari untuk satu pesanan. Kini pelanggan tetapnya adalah PT Freeport (Papua) dan Matahari Department Store seluruh Indonesia. “Banyak juga pesanan dari Kalimantan dan Bali,” katanya.

Dengan koneksinya yang begitu banyak, Yusmiati cukup mengandalkan jaringannya. “Aku wis gak perlu pemasaran online. Alhamdulillah koneksiku wis akeh,” ujarnya diikuti tertawa ringan.

Dulu, ibu tiga orang anak ini mendapat bantuan modal dari Disperindag Kabupaten Malang. Bentuknya berupa mesin pada 1988 silam.

Hal serupa juga dialami Sateno. Hasil kerajinannya kini terus berkembang. Praktis, usahanya tidak pernah seret dari tahun ke tahun . “Uangnya memang kecil, ya antara lima ribu sampai tiga puluh ribu, tapi kalau ngumpul ya kan jadi besar,” tuturnya.

Cobek di desa ini punya dua jenis. Cobek kayu dan batu. Kini Sateno sehari-hari dibantu 10 karyawannya. “Saya kebagian memantau saja, untuk menjaga kualitas produk,” tegasnya.

Selain menghasilkan cobek, perajin di kawasan ini juga menghasilkan produk alat rumah tangga lainnya, seperti entong (untuk mengambil nasi), suthil (untuk menggoreng), telenan (landasan untuk mencacah sayur mayur) dan juga parut.

Kerajinan alat rumah tangga dari kayu saat ini memang mulai kesulitan berkembang. Selain faktor kehadiran alat-alat rumah tangga modern dari aluminium dan metal, juga karena semakin mahal dan sulitnya mendapatkan bahan baku kayu.

“Selain cobek, alat-alat rumah tangga dari kayu prospeknya masih sangat baik. Hal ini karena banyaknya produk rumah tangga dari teflon. Sehingga banyak yang cari suthil dan entong kayu,” tandas Sateno.

Source http://harianbhirawa.com http://harianbhirawa.com/2015/05/cobek-masih-diminati-dan-bahkan-jadi-souvenir-wisatawan/
Comments
Loading...