Sulap Kerajinan Kertas Bekas Menjadi Barang Eksotis Di Lamongan

0 389

Sulap Kerajinan Kertas Bekas Menjadi Barang Eksotis Di Lamongan

Di sebuah rumah sederhana bercat cokelat tua di Desa Moropeleng, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, tampak beraneka barang seni. Barang kerajinan seperti guci, lampu hias, lampu dinding, hiasan dinding, dan beraneka bentuk kerajinan lain, memenuhi teras rumah yang tak luas itu.

Di antara barang-barang kerajinan itu, terlihat sesosok lelaki nyentrik bertubuh kerempeng sibuk memilah-milah tumpukan kertas bekas. Tangannya ringan mengguntingi kertas bekas menjadi beberapa potongan dan kemudian merendamnya kedalam sebuah bak. Setelah menjadi empuk kertas itu dirangkai menjadi sebuah guci.

Pria itu adalah Totok Martono. Perajin yang mengolah kertas bekas menjadi kerajinan yang memiliki nilai jual. Dengan daya, cipta, dan kreatifitasnya, pria berkacamata minus itu mampu mengolah sampah menjadi beraneka jenis kerajinan.

Barang-barang kerajinan itu beraneka warna. Sebagian besar berwarna cerah. Namun sebagiannya lagi masih dalam bentuk setengah jadi, atau belum di warna.

Jika tak jeli mengamati, tak ada yang mengira jika semua barang kerajinan tersebut berbahan baku kertas. Karena secara sekilas bentuknya seperti asli. Guci misalnya, terlihat tak jauh berbeda dari guci keramik atau tanah liat. Namun jika diperhatikan sisi dalam lubang guci akan tampak jelas serat-serat kertas yang menunjukkan kerajinan itu dari kertas bekas. Begitu pula dengan barang-barang kerajinan lainnya.

Kemampuan Totok mengkreasikan kertas bekas menjadi beraneka jenis barang seni diperoleh dari otodidak. Semuanya bermula dari sekitar 4 tahun lalu. Ketika ia melihat tumpukan kertas koran, majalah di dapur rumahnya menjadi pemandangan tak mengenakkan. Kemudian terbesitlah ide kreatif untuk memanfaatkan kertas bekas itu.

Dari sekedar iseng itu, Totok mengaku menemukan keasyikan tersendiri berkreasi dengan kertas bekas tersebut. Kreasi demi kreasi terus bermunculan dan lahirlah berbagai bentuk kerajinan.

Lambat laun hasil kerajinan Totok banyak peminatnya. Bukan saja karena bahannya dari  kertas bekas namun juga karena Ia sanggup melayani segala bentuk pesanan. Untuk guci misalnya, selain pemesan bisa menentukan ukuran, juga bisa meminta gambar yang diinginkan.

Menurut Totok, karena proses pengerjaannya rumit, harga jual barang kerajinannya lebih mahal dibanding kerajinan berbahan baku tanah liat. Rata-rata harganya Rp150 ribu hingga jutaan rupiah.

Yang membuat Totok bangga hasil karya seninya sudah di tayangkan sejumlah televisi nasional. Saat ini, untuk mengembangkan kerajinan itu, Ia tengah menjalin kerja sama dengan Camat Babat, Fadeli Purwanto yang akan memasarkan barang kerajinannya ke Mataram. Pengiriman awal telah dilakukan dengan total penjualan Rp 7 juta.

“Tidak bisa memproduksi massal karena kerajinan saya handmade. Proses pengeringannya juga dengan matahari,” pungkas Totok. Memproduksi kerajinan itu dilakukan dilakukan Totok di sela-sela kesibukannya sebagai Wartawan Suara Banyuurip biro Lamongan.

Camat Babat, Fadeli Purwanto dikonfirmasi terpisah mengatakan, kerajinan daur ulang kertas yang diproduksi Totok terbilang unik dan eksotik. Selain dari kertas sampah, bentuk kerajinan yang dihasilkan juga beragam.

Ia mengaku optimis pemasaran kerajinan dari bekas kertas di Mataram akan laku keras. Bahkan tidak mustahil akan bisa menembus kelas ekspor. “Tinggal Mas Totok nya bisa tidak memenuhi permintaan pasar,” tandas Fadeli

Source http://suarabanyuurip.com http://suarabanyuurip.com/kabar/baca/menyulap-kertas-bekas-jadi-kerajinan-eksotik
Comments
Loading...