Sulap Limbah Menjadi Lilin Karya Mahasiswa UNAIR Di Surabaya

0 152

Sulap Limbah Menjadi Lilin Karya Mahasiswa UNAIR Di Surabaya

Para mahasiswa UNAIR tidak pernah miskin kreatifitas. Salah satunya, yang dilakukan pemuda-pemudi dari D3 Radiologi Fakultas Vokasi. Mereka mengkreasi limbah atau barang bekas menjadi karya sarat manfaat.

Semua itu bermula saat dosen di mata ajar kewirausahaan semester IV memberi mereka tugas. Sejumlah 53 mahasiswa yang dibagi menjadi empat kelompok itu wajib membuat hasta karya. Produk tersebut mesti realistis untuk dibisniskan. Maka itu, mereka juga harus membuat bisnis plan yang rasional.

Yang menarik, limbah yang dipakai berasal dari bidang mereka sendiri. Dengan demikian, perpektif kewirausahaan yang dijadikan pedoman tidak jauh dari program studi yang digeluti. Limbah yang dikreasi tersebut antara lain berupa film rontgen yang sudah rusak, botol cairan kontras, karton pembungkus film rontgen, dan lain sebagainya. Memang, untuk “membisniskannya” dalam skala besar, perlu koordinasi dengan sejumlah stake holder. Baik di tingkat pusat hingga daerah.

Tapi, rencana tersebut bukan tidak mungkin. Mengingat, jaringan program studi radiologi yang sudah luas dan branding kampus UNAIR yang kuat. Bukan mustahil pula, suatu saat mereka akan ikut meramaikan pekan atau pameran handicraft berbahan dasar limbah.

Kreasi Lilin Dari Barang Bekas

Salah satu kelompok yang menamai diri mereka Gift by Us ini membikin lilin souvenir. Bentuknya mungil. Bahan limbah yang dipakai adalah botol-botol kecil cairan kontras. Cairan tersebut kadang dipakai atau dioleskan pada bagian tubuh yang akan difoto rontgen.

“Kami pikir bentuk botol kontras itu lucu. Pasti menarik kalau dihias dan dijadikan barang. Nantinya, bisa dipakai jadi souvenir pernikahan atau kenang-kenangan,” kata Alifi Dika, salah satu anggota Gift by Us.

Mereka pun mulai menganalisa tentang apa yang bisa diciptakan dari botol-botol tersebut. Akhirnya, diputuskan untuk membuat lilin souvenir.

Cara pembuatannya cukup sederhana. Botol diisi dengan bahan lilin. Memang, yang dipakai bukan bahan lilin yang biasa digunakan untuk penerangan saat mati lampu. Melainkan, dari parafin yang umumnya dipakai sebagai bahan bakar para petualang atau orang berkemah. Biar dapat dibentuk, parafin dipanaskan terlebih dahulu agar cair.

Pengisian botol memerlukan kesabaran tingkat tinggi. Sebab, supaya indah, parafin harus dicampur dengan pewarna. Tak hanya itu, parafin mesti dibuat berlapis-lais dengan warna yang berbeda.

Misalnya, lapisan terbawah berwarna merah. Maka, parafin cair berwarna merah dibiarkan mengeras terlebih dahulu selama beberapa menit. Setelahnya, baru dituangkan parafin hijau atau warna lain di atasnya. Begitu terus sesuai jumlah warna dan lapisan yang diinginkan.

Tidak semua lapisan dibuat vertikal. Ada juga yang diagonal. Dengan demikian, tiap pengisian parafin, botol mesti dimiringkan beberapa menit. Dalam tahap itulah kesabaran ekstra dibutuhkan.

Sumbu yang digunakan adalah benang wol. Benang ditanam memanjang ke dasar botol sebelum parafin dituang. Kalau pengerasan parafin sudah beres, lilin souvenir tinggal dikemas dalam kotak-kotak plastik kecil ditambah hiasan pemanis mata.

“Ini kan souvenir. Jadi, fungsinya memang hiasan. Bukan untuk penerangan. Fokus kami, membuat barang ini selucu dan semenarik mungkin,” tambah Nuraida Yulianti, kawan Alifi. Dalam bisnis plan Gift by Us, satu lilin souvenir dibandrol dengan harga Rp 8 ribu.

Source http://news.unair.ac.id http://news.unair.ac.id/2016/04/20/mahasiswa-d3-radiologi-ubah-limbah-jadi-karya-kreatif/
Comments
Loading...